Hidayatullah.com–Bedanya kawin beda agama di Indonesia dengan di Thailand. Jika di Indonesia justru digalakkan oleh para aktifis liberal, di Thailand justru sebagai taktik pihak militer untuk meredam aktifis Islam.
Para ulama dan tokoh masyarakat Thailand selatan baru-baru ini begitu cemas sehubungan beredarnya rumor pemerintah Thailand tengah yang menerapkan kawin beda agama sebagai taktik politik atau dalam bahasa militer disebut sebagai "meredam pemberontakan."
Merebaknya rumor ini dipicu adanya beberapa tentara Thailand yang melakukan praktik kawin beda agama dengan para wanita-wanita muslim, baik lajang maupun yang bersuami di Thailand selatan.
"Ada spekulasi yang beredar luas, militer tengah menggunakan taktik kawin beda agama. Namun ini tak akan berjalan. Taktik semacam itu justru akan meningkatkan kekerasan karena laki-laki muslim akan makin membenci tentara," jelas Abdulrahman Abdulsamad, Ketua Majelis Islam Narathiwat, Rabu (25/5).
Menurut Abdulrahman, cerita kawin beda agama itu sudah menyebar begitu cepat di Thailand selatan. "Wanita dan gadis setempat memang gampang tergila-gila dengan pria gagah yang berseragam dan menenteng senjata. Tetapi kaum pria justru sangat membenci, " tambahnya.
Pihak militer langsung membantah tuduhan itu. "Lapran yang menyebutkan tentara didorong mengawini wanita setempat itu tidak berdasar, " ujar jurubicara militer Phalangoon Kraharn.
Namun dalam pidatonya di depan sidang parlemen, Rabu (25/5), lesgilator pihak muslim dari Propinsi Narathiwat, Fatruddin Bortor mengatakan, sudah 100 wanita muslim yang mengandung dengan pria muslim setempat.
Karenanya, Fatruddin meminta Angkatan Darat (AD) Thailand mendisiplinkan anggotanya. Terutama di tiga propinsi yang dikenal basis Islam, Yala, Pattani dan Narathiwat. Di propinsi tersebut, pihak militer telah mengirim 35 ribu tentara yang kebanyakan penganut Budha. (afp/ap/sy/cha)