Hidayatullah.com–Sumber-sumber rumah sakit dan keamanan Palestina menyatakan, tentara Rezim Zionis hari ini kembali menggelar serangan ke kota Nablus, Tepi Barat Sungai Jordan. Seorang pejuang Palestina anggota Front Fatah, Muhammad Shafwat Ali Ghazi, dilaporkan gugur syahid dalam insiden serangan tersebut. Pejuang Palestina itu gugur syahid di sebuah gedung yang dikepung oleh tentara Zionis. Selain itu, tentara Rezim Zionis juga menangkap seorang pejuang Palestina lainnya.
Sehari sebelumnya, tentara Zionis menyerang kota Tulkarem di Tepi Barat Sungai Jordan. Dalam serangan itu, seorang polisi Palestina bernama Muhammad Syakhadah, gugur syahid dan tiga warga Palestina lainnya luka-luka.
Di pihak lain, PM Israel, Ariel Sharon, Rabu malam kemarin mengklaim bahwa Tel Aviv akan konsisten terhadap perjanjian damai, jika seluruh faksi perjuangan Palestina berhasil dimusnahkan atau dibubarkan.
Laporan lainnya menyebutkan, jumlah korban tewas dalam operasi mati syahid yang dilancarkan Rabu kemarin oleh seorang pejuang Palestina di kota Netanya, meningkat menjadi lima orang dengan tewasnya seorang tentara Zionis. Demikian dilaporkan sumber-sumber pemberitaan Zionis. Serangan bom mati syahid itu juga mencederai 89 orang lainnya yang 38 di antaranya saat ini sedang dirawat di rumah sakit.
Menyusul rangkaian serangan Palestina dari Jalur Gaza, Israel menurut keterangan sendiri, memutuskan untuk kembali melancarkan pembunuhan terarah terhadap warga Palestina militan.
Dengan demikian, kesepakatan gencatan senjata yang telah dicapai dengan pimpinan Palestina pada bulan Februari, tidak berlaku lagi. Menurut laporan, angkatan udara Israel menembaki dua kendaraan. Satu di Tepi Barat Yordan dan satu di Jalur Gaza. Paling tidak tujuh anggota organisasi islam radikal "Hamas" dinyatakan tewas. Menteri Luar Negeri AS Condoleeza Rice menyatakan akan mengunjungi Israel dan wilayah Palestina dalam waktu dekat ini.
Sementara itu, kelompok-kelompok pemukim Yahudi bereaksi marah kepada keputusan PM Ariel Sharon yang menutup permukiman-permukiman Yahudi di Jalur Gaza kepada orang-orang yang bukan penduduk.
Para pejabat Israel mengutarakan keputusan tersebut ditujukan untuk mencegah berbondong-bondongnya para pemukim Yahudi radikal yang telah bersumpah utnuk melawan penarikan mundur Israel dari Jalur Gaza yang dijadwalkan dilakukan bulan depan. (afp/irib/ipm)