Kamis, 13 Oktober 2005
Hidayatullah.com–Ribuan, mungkin puluhan ribu masih tertimbun reruntuhan bangunan. Jenazah diletakkan begitu saja di pinggir jalan, hanya ditutup oleh kain putih, tak ada orang yang mengumpulkannya. Bau busuk tercium di hampir seluruh bagian kota, yang pada siang hari masih panas, walaupun terletak pada ketinggian 2250 meter.
Pangkalan militer di Muzaffarabad juga hancur. Tentara mendirikan tenda di tengah stadion kota itu. Staf penugasan mengadakan konferensi di sebuah barak kecil. Sebagian besar korban luka sudah dapat diangkut ke kota lain.
Dua jalan penting menuju Muzaffarabad sejak hari Senin sudah dapat dilalui lagi. Bantuan besar-besaran kini sudah dapat diberikan, demikian dikatakan kolonel Zahir Kayani.
Selebihnya Muzaffarabad sepi, tanpa listrik, tanpa cahaya, tanpa tempat berteduh bagi orang-orang yang masih berada disana. Misalnya lima orang yang tidur di pinggir jalan di depan reruntuhan rumahnya.
Di Kashmir, demikian juga adanya. Sejumlah korban yang selamat masih menantikan bantuan. Regu penyelamat berlomba dengan waktu dalam pencarian korban.
Seluruh keluarga, terutama perempuan dan anak-anak duduk dengan pandangan hampa, dalam kendaraan yang berusaha melintasi jalanan yang tertimbun tanah longsor. Mereka adalah pengungsi dari Muzaffarabad, yang sampai hari Sabtu lalu merupakan jantung wilayah Kashmir bagian Pakistan.
Jumlah penduduknya lebih dari 100.000 orang, tetapi kini Muzaffarabad mungkin merupakan kuburan terbesar di Pakistan. Tidak ada lagi rumah yang utuh.
Harapan untuk menemukan korban yang masih hidup di bawah reruntuhan, sudah tidak ada lagi. Regu penyelamatan asal Turki yang sejak hari Minggu lalu aktif membantu, juga tidak berhasil.
Sekitar 3o ribu orang tewas akibat gempa bumi Kashmir ini dalam gempa bumi yang berkekuatan 7,6 ini , demikian diumumkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perhubungan wilayah itu Tariq Farooq kepada Kantor Berita Prancis (AFP), Minggu.
"Perkiraan kasar kami menyebutkan bahwa lebih dari 30.000 orang tewas dalam gempa bumi di Kashmir," katanya.
India dan Pakistan, dua negara berkekuatan nuklir, terlibat dalam dua perang menyangkut masalah Kashmir namun kedua pihak kini melakukan proses perdamaian.
Sebelum terkena musibah gempa, umat Islam di Kashmir telah tiap hari tak bisa hidup nenang akibat konflik historis sejak tahun 1947 akibat masalah nuklir India-Pakistan.
Mei 1999, konflik di Kashmir menewaskan 200 tentara India 500 lainnya terluka. 13 Desember 2001 dan menewaskan 20 orang.
Tahun 2004, sebuah bom yang dikendalikan dari jarak jauh meledak di sebuah jalan di Desa Wachi, Distrik Pulwama, sekitar 65 kilometer di sebelah Utara ibu kota wilayah Jammu-Kashmir. Sebelas tentara India tewas dan melukai warga lain. Ledakan juga merusak mobil patroli tentara India serta meninggalkan lubang sedalam tiga meter.
Sekitar dua pertiga wilayah Kashmir berada di bawah kekuasaan India, sedangkan sisanya berada di pihak Pakistan. Pakistan berpandangan, seluruh wilayah Kashmir seharusnya berada di bawah kedaulatannya karena perpecahan Anak Benua Asia tahun 1947 karena masalah perbedaan agama.
Umumnya, yang menjadi korban dari konflik ini adalah umat Islam.
Setelah sekian lama tak pernah mendapatkan kedamaian, umat Islam Kashmir harus bersedih lagi atas musibah gempa. (cha, berbagai sumber)