Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Sulit Menjadi Guru, Protes Melalui Komedi Televisi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 September 2009 13:44
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Posisi guru seharusnya diisi oleh orang-orang yang benar-benar mempunyai kompetensi di bidangnya. Oleh karena itu sebenarnya wajar jika syaratnya sedikit berat. Namun, sepertinya persyaratan yang berat itu membuat frustasi sebagian orang yang berkeinginan menjadi guru di Arab Saudi. Mereka menuding para penyeleksi calon guru sebagai batu sandungan dalam dunia pendidikan di sana.

Sebuah episode dari serial komedi di Arab Saudi, Tash Ma Tash, menggambarkan para pakar agama sebagai penentang reformasi pendidikan. Diceritakan dalam tayangan itu, seorang calon guru frustasi ketika menghadapi  pertanyaan selama wawancara untuk mengisi lowongan guru di kantor Kementerian Pendidikan.

Anggota Majma Fiqh Al Islami, Shaikh Muhammad Al-Nujaimi baru-baru ini mengkritik cerita itu, dan mengatakan itu hanyalah “sekedar upaya mencetak angka” yang dilakukan oleh Yahya Al-Amir si penulis cerita.

“Ia seorang ekstremis liberal yang punya segudang masalah dengan kementerian,” katanya merujuk Kementerian Pendidikan. “Ia seharusnya mengurusi masalah sosial, ekonomi, dan perdagangan, bukan masalah pribadi,” tambahnya.

Mengomentari cerita yang menggambarkan seorang calon guru yang frustasi ketika menghadapi  pertanyaan selama wawancara, ia mengatakan bahwa Al-Amir hanya memusatkan perhatian pada dua aspek kecil yang tidak termasuk esensial.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Cara berpikir seorang guru dan keterampilannya dalam mengajar, memberika informasi kepada murid-murid, merupakan hal yang juga penting. Sebagaimana tidak cukup menjadi seorang doktor dalam ilmu fiqh, tapi ia tidak dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik,” katanya.

Dikatakan oleh Shaikh bahwa penulis cerita itu menuding panel yang bertugas mewawancarai, tanpa melihat fakta bahwa mereka bekerja sebagaimana mestinya. Juga dikatakan, ia mengerti jika penulis itu menginginkan sebuah “pendidikan masyarakat”, tapi Al-Amir memakai istilah yang “samar-samar” tanpa menerangkan apa maksudnya.

“Penulis itu juga mengutip sebuah buku sekolah yang mengatakan bahwa mempekerjakan orang kafir sebagai pembantu rumah tangga adalah dilarang, tanpa menjelaskan kebenaran tentang masalah itu.”

Menanggapi pernyataan Shaikh Al-Nujaimi, Al-Amir mengatakan bahwa ia tidak memperdulikan hal itu. “Tidak perlu memberi tanggapan, karena semuanya itu adalah anggapan dan dugaan yang tidak masuk akal,” katanya Sabtu lalu.

“Cerita di episode itu tidak menyinggung ekstremis manapun. Tapi itu tentang orang-orang tradisional dan birokrat yang melambangkan  batu sandungan bagi kemajuan pendidikan di kerajaan,” kata Al-Amir.

Hari Senin, episode yang kontroversial dari serial komedi Tash Ma Tash itu menimbulkan perdebatan luas baik dalam masyarakat maupun media massa.

Kepada Al-Watan Selasa pekan lalu Al-Amir mengatakan bahwa ada tanggapan yang besar setelah episode itu ditayangkan.  Banyak yang memberikan selamat, ucapan terima kasih, dan dukungan.

Beberapa orang calon guru yang gagal pada tahap wawancara ketika melamar menjadi guru mengatakan kepada Al-Watan bahwa cerita dalam episode itu sesuai dengan pengalaman mereka.

Sepertinya masyarakat Saudi perlu belajar dari pengalaman Indonesia. Di negara ini syarat menjadi seorang guru sangatlah ringan, bahkan profesi guru banyak dijadikan pelarian karena frustasi tidak mendapatkan pekerjaan lain. Banyak guru yang mempunyai kompetensi keilmuan dan moral yang rendah, akibatnya kualitas pendidikan di negara ini semakin lama semakin menurun. [di/sg/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bersedekah, Tapi Justru Berbuah Perkara
Tulisan selanjutnya Qadhafi Serukan Tutup Seluruh Kedubes Israel di Afrika

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ubah Tradisi, Rektor UNIDA Gontor Ajak Dosen Jadi Magnet Keilmuan Mahasiswa karena Kepakarannya

Berita
29 September 2026 20:51
Presiden Brazil Teken Larangan Judi Online
Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100
Timnas Irlandia Tolak Jabat Tangan dengan ‘Israel’ sebelum Libas Tiga Gol Tanpa Balas
Saudi Jatuhkan 2 Drone dan 2 Misil Houthi

Terbaru

  • Ubah Tradisi, Rektor UNIDA Gontor Ajak Dosen Jadi Magnet Keilmuan Mahasiswa karena Kepakarannya
  • UNIDA Gontor Kukuhkan 4 Guru Besar Baru, Dorong Tradisi Kepakaran Keilmuan
  • Jadi Beban dan Masalah, Malaysia Repatriasi Ribuan Pengungsi dan Migran Myanmar
  • Negara Bagian California Tetapkan Idul Fitri dan Idul Adha sebagai Hari Libur Resmi
  • Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
  • Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi
  • Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100
  • Timnas Irlandia Tolak Jabat Tangan dengan ‘Israel’ sebelum Libas Tiga Gol Tanpa Balas
  • Iran Klaim Tangkap Drone Bawah Laut Amerika di Selat Hormuz
  • Warga Maroko di Belasan Kota Gelar Demo Tolak Normalisasi Pemerintahnya dengan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?