Hidayatullah.com–Deputi Menteri Pertahanan Belanda Jack de Vries akhirnya harus mengakhiri karier politiknya, akibat perselingkuhan dengan seorang staf wanita di kantornya terbongkar.
Pemberitaan media yang memberikan tekanan begitu kuat, dikatakannya, membuat ia tidak lagi bisa melaksanakan tugas dengan baik.
Menteri Pertahanan Eimert van Middlekop menyebut pengunduruan diri De Vris sebagai sebuah keputusan pahit, namun bisa dipahami.
Menurut Radio Netherland (14/5), segera setelah kabar perselingkuhannya merebak, De Vries langsung menghubungi media. “Saya ingin menggunakan waktu untuk mencari solusi yang baik bagi keadaan pribadi kami,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Awal pekan ini De Vries mengakui bahwa ia mempunyai hubungan rahasia dengan seorang stafnya, sehingga istrinya mendepaknya keluar dari rumah. Sejak itu, De Vries terpaksa tidur di sebuah barak militer.
Membahayakan negara
Kasus perselingkuhan di kalangan politikus Belanda kabarnya jarang terjadi–atau mungkin memang tidak atau belum banyak terungkap. Dan bagi mereka, perselingkuhan bukan semata-mata masalah pribadi, tetapi masalah negara, karena bisa mengancam keamanan nasional.
Hari Rabu lalu mantan Menteri Tenaga Kerja, Bram Peper, meminta agar De Vries mengundurkan diri. “De Vries melakukan perjalanan ke luar negeri dengan pacarnya, sementara ia membawa rahasia negara. Itu merupakan bahaya bagi negara Belanda.” Berbahaya karena rahasia perselingkuhannya bisa digunakan pihak luar untuk memeras seorang Deputi Menteri Pertahanan.
Ketua Serikat Personil Pertahanan VBM/NOV, Jean Debie, di De Telegraaf mengatakan, “Etika perilaku di Kementerian Pertahanan menyebutkan bahwa hubungan di tempat kerja harus diumumkan. De Vries tidak mematuhinya, sehingga ia tidak bisa menuntut hal itu dari bawahannya.”
Wim van de Burg, Presiden Serikat Personil Militer AFMP/FNV bahkan menyinggung dengan keras, “Seorang Deputi Menteri yang selalu menekankan nilai-nilai keluarga, tapi jika ia kemudian berselingkuh dengan stafnya yang lebih muda, maka dia benar-benar dapat masalah.”
Kasus De Vries mendapat sorotan tajam, karena Partai Kristen Demokrat selama ini mengedepankan citra “bersih”. Terlebih De Vries merupakan salah satu penyusun strategi di partai itu dan berada di urutan ke-15 daftar calon Partai Demokrat Kristen untuk pemilu 9 Juni mendatang. Skandalnya jelas mencoreng nama partai.
Skandal perselingkuhan tersebut pertama kali dibongkar sebuah acara gosip di televisi RTL Boulevard. Pada tahun 1960, Menteri Pertahanan Belanda Sidney van den Bergh juga harus meletakkan jabatannya akibat selingkuh.
Kasus De Vries kiranya perlu dijadikan pelajaran bagi bangsa Indonesia, yang belakangan justru tidak sungkan mencalonkan orang-orang yang cacat moral sebagai pemimpin. [di/rnw/hidayatullah.com]
Foto: Reuters