Hidayatullah.com–Para pemimpin dan presiden dari negara Muslim menyatakan keberatan kepada PBB atas tindakan dunia Barat yang terus “menyerang”. Mereka mengingatkan, tindakan ini hanya akan memperluas perpecahan hubungan dan berkembangnya ancaman pada keamanan nasional.
Negara Islam menganggap masyarakat internasional harusnya bersatu melawan “perpecahan masyarakat”.
Ancaman pembakaran al-Quran oleh sebuah gereja di daerah pinggiran Amerika, kontroversi rencana pembangunan masjid di dekat Ground Zero, serta serangan terhadap simbol-simbol Islam di negara Eropa menjadi hal utama yang menjadi pembicaraan negara-negara Islam.
Belum lama ini, negara-negara Barat telah membicarakan di PBB untuk melawan meningkatnya perselisihan agama pada minggu sebelumnya.
Sebelum ini, negara Barat merasa dipermalukan pidato Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad yang menghubungkan pemerintah Amerika dengan tragedi 11 September, ujar para diplomat.
Namun Syaikh Hamad bin Khalifa Al-Thani, Pemimpin Qatar, yang meluncurkan inisiatif diplomatik Barat untuk menyelesaikan perang Sudan, hingga konflik Israel-Palestina, mengutuk upaya menghubungkan Islam dengan “terorisme”. Secara terpisah, ia menyalahkan deklarasi “Perang Melawan Terorisme” Amerika setelah 11 September yang diluncurkan George W Bush.
“Kami tidak setuju dengan atribut yang menghubungkan terorisme dengan agama Islam karena –sebagai tambahan kesalahan– ketidakadilan dalam sejarah telah disangkal oleh bukti sejarah yang baru.”
Dia mengatakan “aksi kekerasan serampangan” di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia di akhir abad 20, tidak pernah dicap sebagai terorisme Amerika, Eropa, atau Asia.
“Kekerasan yang terjadi selama ini berdasarkan isu politik, ekonomi, sosial dan bahkan ideologi, tanpa menyematkan agama, negara atau ide tertentu.”
Sementara itu, Menteri Luar Negri Mesir Ahmed Abul Gheit mengutuk beberapa insiden yang mengejutkan yang selalu “menyentuh” Muslim dan Islam, bahkan secara sistematis selalu berulang-ulang di beberapa kasus.
Ia menambahkan, “Kami menemukan dunia Barat, umumnya, selalu bermasalah dengan dunia Muslim. Permasalahan tidak akan menguntungkan pihak manapun, kecuali kaum ektremis atau orang-orang yang memiliki pandangan salah di kedua belah pihak. Hal ini akan mengganggu keamanan dan stabilitas dunia.”
Gheit meminta pemerintahan dunia Barat untuk mengambil tindakan, termasuk tindakan hukum.
“Kami meminta seluruh Negara dan khususnya pemerintah, memikirkan tanggung jawab mereka untuk mempertemukan momok agama yang menakutkan dan perselisihan masyarakat.”
Raja Abdullah II dari Jordan menyebutkan “hal penting untuk menolak hal-hal yang menyebarkan kesalahpahaman.”
Raja Abdullah diundang untuk acara tahunan World Interfaith Harmony Week untuk menyampaikan masalah toleransi.
Sementara Perdana Menteri Malysia Najib Razak mengatakan pada sidang PBB, jika sebanyak 1.5 milyar penduduk Muslim dunia tersinggung atas “usaha membusukkan Islam” ini.
“Hal ini memperparah perpecahan antara dunia Islam dan Barat.”
Razak menyebutkan perseteruan ini adalah antara kaum moderat dan ekstrimis di semua agama.
“Kita harus, dan saya ulangi, kita harus segera merebut kembali dasar dan moral yang baik yang telah dirampas dari kami.”
Mohamed Waheed, Wakil Presiden dari Maldives menyatakan “intoleransi agama, stereotype negative, ras profiling, dan diskriminasi (PBB) misi untuk kedamaian dan kesejahteraan di antara masyarakat.”
Spanyol dan Turki membentuk persekutuan di tahun 2005 di mana PBB mensponsori dan mendapat anggota hingga 122 untuk menjembatani jurang budaya dan agama.
“Kita hidup di dunia di mana kelompok terkecil dapat menyebabkan kerusakan besar,” ujar Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan pada pertemuan para menteri di New York itu.
Menyoroti serangan beberapa makam Muslim di Prancis dan tindakan lain di Eropa, Sekjen OKI, Ekmeleddin Ihsanoglu, membandingkan dengan fenomena pergerakan anti-semit tahun 1930-an.
“Ketika kuburan dari prajurit Senegal yang meninggal untuk Prancis dirusak, apa yang akan Anda katakan,” ujarnya, membandingkan dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Ia mengatakan, pemimpin Negara Eropa harus lebih peduli atas apa yang ia sebut “fenomena berbahaya” dan mengambil tindakan bersama-sama dengan pemimpin Muslim. [un/cam/hidayatullah.com]