Hidayatullah.com–Seorang komandan militer Iran menuding perusahaan Jerman membantu Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan cyber terhadap instalasi nuklirnya. Demikian lapor Reuters yang mengutip surat kabar harian Kayhan, Ahad (17/4).
Gholamreza Jalali, kepala pertahanan sipil Iran mengatakan bahwa virus Stuxnet disebarkan oleh dua musuh besarnya yaitu Amerika Serikat (AS) dan Israel, dengan bantuan Siemens sebagai penyedia teknologi piranti lunak Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA).
SCADA yang terinfeksi virus dipakai Iran untuk mengontrol mesin-mesin di instalasi nuklirnya. Oleh karena itu Iran menuntut penjelasan Siemens, mengapa teknologi yang disediakan perusahaan Jerman itu bisa ditembus oleh Stuxnet.
Menurut penelusuran Iran, Stuxnet disebarkan dari wilayah Amerika Serikat dan Israel.
Beberapa pakar menggambarkan Stuxnet sebagai “peluru kendali cyber” yang menarget program nuklir Iran.
Negara Syi’ah itu mengungkapkan sedikit rincian tentang dampak yang ditimbulkan Stuxnet. Pada bulan September tahun lalu komputer para staf di pembangkit nuklir Busher, yang dibangun bekerjasama dengan Rusia, diserang virus. Namun pembangkit nuklirnya sendiri tidak mengalami kerusakan.
Busher hingga kini belum berjalan sebagaimana mestinya, dan berkali-kali melewati batas waktu yang ditetapkan untuk mulai beroperasi karena banyak kendala. Hal itu menimbulkan spekulasi bahwa instalasi nuklir itu terkena virus, sebuah dugaan yang disangkal oleh Iran.
Namun bulan Januari awal tahun ini, duta besar Rusia untuk NATO mengatakan bahwa Busher diserang virus, sehingga menimbulkan kemungkinan bahaya kebocoran nuklir seperti yang dialami instalasi nuklir Chernobil di Ukraina pada tahun 1986 pada masa Uni Sovyet.*