Hidayatullah.com–Penyelidik HAM PBB meminta Amerika Serikat untuk mengungkapkan apakah ada rencana untuk menangkap Usamah bin Ladin dan apakah ia ditawari pilihan untuk menyerah dan ditahan.
Dalam prinsip kontak senjata seperti itu harus ada kemungkinan untuk menyerah bagi target, tembakan peringatan, jika perlu baru dilakukan tembakan melukai target, tapi bukan membunuhnya.
JIka prinsip itu tidak diindahkan maka operasi tersebut bisa menjadi “eksekusi berdarah dingin”.
Meskipun demikian kata Martin Scheinin pelapor khusus perlindungan HAM dalam kontra-terorisme, situasi pada saat itu juga harus dikaji, termasuk apakah pasukan AS mendapat serangan.
“Kami hanya mengatakan bahwa pemerintah AS harus menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait apakah benar-benar ada kemungkinan (pilihan) menyerahkan diri dan ditahan yang diberikan oleh AS, tapi mungkin tidak diambil oleh Usamah bin Ladin,” kata Scheinin kapada Reuters lewat telepon (06/5).
Menurut Scheinin hingga saat ini masih belum jelas apakah kemungkinan menyerah bagi Bin Ladin saat disergap di rumahnya di Abottabad Pakistan itu telah diupakan oleh Amerika Serikat.
Sebagaimana dilansir Reuters sebelumnya (02/5) seorang pejabat keamanan nasional AS mengatakan, “Ini adalah operasi untuk membunuh,” katanya, seraya menegaskan bahwa tidak ada keinginan sama sekali bagi AS untuk menangkap Bin Ladin hidup-hidup di Pakistan. Tim pasukan khusus Amerika Serikat yang membunuh Usamah bin Ladin mendapat perintah untuk membunuh, bukan menangkapnya.
Namun kemudian, setelah banyak pertanyaan bermuculan dari publik yang mengkritisi jalannya operasi militer itu, Gedung putih lewat suara Direktur CIA Leon Panetta mengatakan dalam wawancara dengan stasiun televisi PBS hari Rabu (04/5) mengatakan bahwa keputusan untuk membunuh Usamah bin Ladin diambil oleh pasukan Navy SEAL yang berada di lapangan.
Navy SEAL yang membuat keputusan akhir untuk membunuh Bin Ladin bukan presiden.
“Wewenangnya adalah untuk membunuh Bin Ladin, tetapi tentu saja sesuai dengan aturan pertempuran, jika ia ternyata mengangkat tangan, menyerah dan tidak menunjukkan tanda-tanda ancaman, maka mereka (Navy SEAL) akan menangkapnya. Tapi mereka punya wewenang penuh untuk membunuhnya,” kata Panetta seperti dikutip Telegraph. *