Hidayatullah.com– Sedikitnya delapan orang tewas dari ribuan yang turun ke jalan dalam aksi unjuk rasa anti Pemerintah Suriah hari Jumat, ujar aktivis hak azasi manusia. Beberapa korban termasuk tiga orang di Qatana, sebuah daerah pinggiran ibu kota, dan empat korban di desa sebelah selatan Dael, menurut komite kerja sama lokal di Suriah yang menolong mengatur unjuk rasa. Satu orang dilaporkan tewas di dekat perbatasan Libanon.
Unjuk rasa selama 10 minggu ini meningkat dari gerakan yang meminta reformasi menjadi kerusuhan yang saat ini meminta Presiedn Bashar Assad turun. Pada hari Jumat, unjuk rasa terjadi di ibu kota Damaskus dan di kota pesisir Banias, pusat kota Homs dan beberapa tempat lainnya.
Kelompok hak azasi manusia mengatakan lebih dari 1.000 orang terbunuh sejak kerusuhan terjadi di pertengahan bulan Maret.
Banyak aktivis yang memilih unjuk rasa pada malam hari dan penjagaan dengan lilin, bertujuan agak pihak keamanan mimiliki waktu yang sedikit untuk datang.
“Kami tidak akan membuat mereka tertidur,” seorang penduduk Dael berusia 28 tahun mengomentari petugas keamanan. “Kami akan membuat mereka gila, segera setelah mereka datang di wilayah kami, kami akan pergi dengan cepat dan mereka akan kehilangan. Kemudian kami mulai lagi setelah mereka pergi,” ujarnya pada The Associated Press.
Sementara itu, Dubes Suriah untuk Indonesia, Bassam Al-Khatib mengatakan, ada usaha tangan-tangan asing yang memperkeruh agar negaranya kacau-balau.
Menurutnya, pemerintahnya, yang dipimpin Bashar al-Assad adalah putra rakyat, mustahil baginya menembaki rakyatnya sendiri. Yang justru ditemukan pemerintahnya adalah adanya penembak-penembak bayaran yang dibiayai pihak asing.
“Presiden adalah “putra rakyat”, pemerintah adalah “putri rakyat”. Presiden memerintahkan untuk tidak menembak rakyat. Tapi yang terjadi di wilayah Banias, tentara Suriah justru terbunuh dan ditembak oleh orang tak dikenal,” ujarnya pada hidayatullah.com bulan lalu. *