Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Wanita Tuntut Peran Lebih Besar, Mesir Makin Liberal

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Juli 2011 12:20
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Setelah Perdana Menteri Mesir, Essam Sharaf me-reshuffle kabinetnya, sebagai upaya ‘mendinginkan’ suhu politik Mesir yang memanas dengan menghadirkan pemerintahan yang lebih representatif, para wanita Mesir mulai unjuk suara menuntut representasi lebih besar dalam perpolitikan.

Sebagaimana diketahui, Sharaf telah me-reshuffle sebanyak 14 menteri dalam kabinetnya pada Ahad, (18/07/2011), di antaranya dengan mengganti Menteri Keuangan dan Menteri Luar Negeri, tetapi tetap mempertahankan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kehakiman.

Sejumlah organisasi kewanitaan beranggapan bahwa dengan hanya seorang wanita dalam kabinet baru tersebut, yakni Menteri Kerjasama dan Perencanaan Internasional Fayza Abul-Naja, pemerintahan baru ini jauh dari egaliter.

Kendatipun, Harian Mesir Al-Ahram menyebut sebagai “liberal-dominated”, para pengunjuk rasa Tahrir Square yang telah menggelindingkan roda perubahan di Mesir mengklaim bahwa kabinet yang baru ini masih terlalu pro-Mubarak.

Suara-suara bernada protes dari publik memaksa Sharaf menunda sementara pengambilan sumpah pemerintahan baru tersebut yang sedianya dilakukan pada hari Selasa (20/07/2011).

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Ini merupakan sebuah kesengajaan untuk mengabaikan representasi wanita,” ucap Nahed Shahata, Head of Programming pada Egyptian Center for Women’s Right (ECWR), sebuah organisasi LSM berbasis di Kairo, pada The Media Line sebagaimana dilansir situs Arabnews.

“(Padahal) para wanita berdiri berdampingan dengan para pria di Tahrir Square. Banyak dari mereka yang tewas dan terluka seperti halnya pria. Ini bukanlah sebuah pertanyaan mengenai gender; ini adalah sebuah periode penting dalam transisi demokrasi,” lanjutnya lagi.

Lima bulan setelah jatuhnya Hosni Mubarak dari kursi kepresidenan dalam pemberontakan besar-besaran yang berpusat di Tahrir Square Kairo, kabinet Sharaf yang ditunjuk dan dikendalikan oleh para jenderal Angkatan Bersenjata dari SCAF (Supreme Council of the Armed Forces) telah berjuang untuk memperoleh pijakan yang kokoh.

Shahata mengatakan bahwa tidak ada satu penghalang pun baik dari sisi agama maupun pendidikan yang menghalangi wanita untuk memegang posisi kepemimpinan di Mesir, apalagi bila melihat fakta banyaknya wanita yang telah mengabdikan diri sebagai jaksa, akademisi dan pemimpin sosial.

Dia menegaskan pemerintah memliki tanggung jawab untuk menanamkan ide-ide mengenai kesetaraan pada masyarakat dengan menempatkan lebih banyak lagi wanita di parlemen, dalam pemerintahan baru dan sebagai gubernur/kepala daerah.
Dalam rilis pers yang dikeluarkan, ECRW sendiri tidak menjelaskan berapa rasio jumlah wanita yang dianggap adil, tetapi Shahata menyebutkan angka 30 persen sebagai target yang masuk akal.

Para wanita telah diizinkan untuk menggunakan hak pilihnya di Mesir sejak tahun 1956, dan berdasarkan sebuah rancangan undang-undang yang disahkan pada tahun 2009, sebanyak 64 kursi di Dewan Rakyat, Majlis Rendah pada Parlemen Mesir, disediakan untuk wanita, dari jumlah keseluruhan 454 kursi.

Sebelum itu, hanya sembilan orang wanita yang bisa memperoleh kursi dalam Parlemen Mesir setelah Pemilihan Umum tahun 2005. Mereka hanya merepresentasikan 2 persen dari total kursi yang ada.

Sementara itu, Al Ikhwan al Muslimun (Ikhwan), kekuatan politik utama Mesir, telah mengizinkan wanita untuk mengajukan diri sebagai calon anggota parlemen, tetapi menentang pencalonan wanita sebagai presiden, dengan dalih bahwa menurut hukum Islam. Menurutnya, posisi tersebut hanya diperuntukkan untuk laki-laki.

Oleh karena itu, tidak ada anggota wanita dalam badan-badan pengambilan keputusan di Ikhwanul, seperti Dewan Syura dan Dewan Pertimbangan.

Meskipun demikian, dalam pemilihan presiden yang sedianya dilangsungkan setelah pemilihan anggota parlemen pada musim panas, seorang wanita berencana akan ikut bertarung melawan 19 kandidat lainnya yang semuanya adalah laki-laki.

Buthaina Kamal, demikian nama wanita tersebut, adalah seorang aktivis sosial berusia 49 tahun, telah menjadi populer di mata massa Tahrir karena partisipasi aktifnya dalam revolusi dan sikapnya yang blak-blakan menentang rezim militer.
“Revolusi sedang dicuri,” ucapnya pada Harian Asy-Syarq Al-Awsath yang berbasis di London pada hari Selasa (20/07/2011).

“Kita telah duduk tenang dalam waktu cukup lama, dan hasilnya kita semakin bergerak mundur ke belakang,” lanjut Kamal, yang kembali ke Tahrir Square minggu ini untuk melanjutkan protes menentang pemerintah, kepada harian tersebut.

Berpakaian tanpa jilbab, mengenakan busana modern dengan sebatang rokok terselip di jemarinya, Buthaina Kamal berjanji akan melancarkan kampanye anti korupsi.

Menurutnya, retorika SCAF mengingatkannya akan era Mubarak, dan tidak mengandung apa pun seain ancaman dan peringatan akan bahaya para pengunjuk rasa Tahrir Square

Maya Kassem, seorang pakar politik di American University of Cairo, mengatakan bahwa perdebatan mengenai representasi wanita dalam dunia politik tidaklah relevan, karena ia tidak yakin Mesir akan menjalani proses demokrasi dalam waktu dekat.

“Saya pesimistis,” ucap Kassem kepada The Media Line. “ Transformasi ke arah demokrasi tidak akan berlangsung cepat. Militer tidak akan rela kehilangan kekuasaan mereka begitu saja.”

Jatuhnya rezim Mubarak tidak serta merta menyelesaikan masalah, tetapi justru menimbulkan masalah baru, terutama wajah Mesir yang mulai liberal.*/ Zahratun Nahdhah

Foto: Buthaina Kamal

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya A New You: Ketika Anda Ingin Merubah Karir
Tulisan selanjutnya Jika Wanita Melakukan Pelecehan terhadap Rekan Pria

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Berita
15 Juli 2026 21:25
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?