Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Agama dan Busana, di Luar Pelarangan Burqa

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Juli 2011 08:55
Bagikan
Bagikan

Oleh: Shenaz Kermalli

Obsesi Eropa dengan cara berbusana Muslimah masih jauh dari berakhir. Beberapa bulan setelah Prancis melarang pemakaian burqa (busana yang menutup muka dan seluruh tubuh) di ruang publik, Belgia pun ikut-ikutan. Mulai pekan lalu, perempuan yang mengenakan burqa di muka umum (yang di Belgia jumlahnya cuma tidak seberapa) akan dikenai denda dan bisa pula masuk penjara hingga tujuh hari lamanya.

Apakah pelarangan semacam itu akan diterapkan juga di Inggris kurang jelas. Kendati ada pernyataan pemerintah Inggris bahwa mereka tidak akan pernah mengadopsi kebijakan seperti itu, dan menyebutnya “bukan gayanya Inggris”, opini publik Inggris tidak tampak sejalan. Dalam sebuah jajak pendapat YouGov selepas pelarangan burqa di Prancis, dua pertiga masyarakat Inggris setuju dengan pelarangan burqa di Inggris.

Perkembangan ini menunjukkan perlunya memperbaiki pemahaman tentang Islam dan Muslim.

Untungnya, ada banyak organisasi kemanusiaan di Inggris yang bertujuan memberdayakan anak muda Muslim dan membangun sikap pengertian dan saling percaya di antara berbagai komunitas agama. Three Faiths Forum (3FF) di London, misalnya, membina sikap pengertian di antara orang Yahudi, Kristen dan Muslim, serta para ateis dan para penganut agama-agama non-Ibrahimi, melalui berbagai kegiatan rutin dan program-program pembinaan.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Kegiatan terbaru 3FF adalah perkuliahan singkat tentang desain, yang bernama “Faith and Fashion”, yang digelar awal Juli di London College of Fashion (LCF). Perkuliahan ini khusus diadakan untuk para remaja putri Muslim dan Kristen dari berbagai sekolah agama setempat untuk menggali bagaimana agama bisa menginspirasi busana, dan menunjukkan bahwa keduanya bisa dikaitkan secara positif dan tidak harus diasosiasikan secara negatif, seperti dengan pelarangan burqa.

Dalam perkuliahan itu, Pendeta Joanna Jepson dari LCF yang merancang perkuliahan tersebut, mengatakan bahwa ia ingin menciptakan ruang yang nyaman bagi para remaja putri untuk terlibat dalam dialog yang bermakna. “Program ini adalah soal membuat para pelajar mengerti identitas mereka sendiri dan mendengar cerita satu sama lain, serta merasakan petualangan artistik dari konsep hingga rancangan yang usai.”

Menariknya, banyak pelajar Muslim di perkuliahan tersebut yang mengenakan jilbab dan/atau abaya (baju kurung) mengatakan kalau mereka merasa bahwa mengenakan suatu penanda-yang-terlihat dari agama mereka sangatlah penting bagi identitas mereka, walaupun sering kali mereka mendapat tatapan sinis ketika berada di tengah khalayak.

Zainab Niaz, pelajar 15 tahun dari sebuah sekolah Muslim di London timur, mengatakan bahwa fesyen sangat memengaruhi keputusannya memilih baju yang ia pakai, terutama karena ia seorang Muslimah. “Kalau bukan karena kita menganut Islam, kita tidak bisa menunjukkan agama apa yang kita anut, yang merupakan bagian penting dari latar belakang kita.” Ketika ditanya mengapa membuat orang tahu agama apa yang ia anut itu penting, Zainab mengatakan, “Itu menambah keragaman kota ini.”

Sadiya Ali, pelajar 14 tahun dari sekolah Katolik di London utara, mengatakan: “Saya tidak berpikir tentang fesyen sebagai kecantikan. Saya berpikir tentang fesyen sebagai pakaian yang Anda kenakan sebagai wujud pengamalan agama.”

Mengenakan jilbab hitam yang terselip rapi di seragam sekolah Katoliknya, Sadiya mengatakan kalau ia terus saja mendapat pelecehan di sekolahnya dan di tengah masyarakat karena keputusannya untuk menutupi rambutnya. tetapi ia santai saja karena orang-orang semestinya menghormatinya apa adanya.

“Saya tidak takut [mengenakan jilbab] dan saya tidak dipaksa atau ditakut-takuti untuk mengenakan jilbab. Terkadang orang akan menilai Anda berdasar apa yang Anda kenakan, dan mereka punya stereotipe tentang Anda sebelum bertemu Anda. tetapi apa pun kata orang, Anda semestinya mengabaikannya saja karena pada akhirnya, itu pilihan Anda dan itu apa yang Anda ingin kenakan,” tambah Sadiya. “Jangan ikuti orang lain – jadilah dirimu sendiri.”

Suara anak muda boleh jadi tidak selalu nyaring atau kuat, tetapi sering kali lebih penting dari apa yang para pembuat kebijakan pahami. Jika negara terus menyasar orang Muslim dengan mendiktekan apa yang boleh mereka tutup dan tidak boleh mereka tutup, negara akan semakin mengisolir komunitas Muslim yang memang sudah merasa terkucil. Generasi mendatang patut mendapatkan yang lebih baik.

Penulis adalah jurnalis lepas di Inggris. Ia pernah bekerja untuk BBC News dan Al Jazeera. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Senjata Baru Israel untuk Demonstran Palestina
Tulisan selanjutnya Aqidah Syaba’iyya dan Sejarah Benih Perpecahan Umat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Berita
17 Juli 2026 15:23
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Terbaru

  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat
  • Spanyol Lumpuhkan Argentina di Piala Dunia 2026, Warga Gaza Bergembira
  • ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
  • Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
  • Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
  • Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade
  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?