Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Kelaparan Bukan Murni Masalah Ekonomi, Tapi Politik

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 November 2011 05:56
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Sebenarnya tersedia lebih dari cukup makanan untuk memberi makan penduduk dunia. Tetapi sistem ekonomi global yang menguntungkan negara industri menciptakan kelaparan di negara berkembang. Pernyataan ini disampaikan Ute Schaeffer, Kepala redaksi Deutsche Welle (DWWD).

Menurutnya, tujuh miliar manusia, kenyang dan cukup gizi. Tentu saja ini mungkin. Bumi kita menghasilkan cukup bahan makanan. Kelaparan bukan sebuah bencana alam. Kelaparan memang dibiarkan secara politis. Karena ada yang lebih penting. Misalnya suara para konsumen dan petani di Eropa.

“Karena jika kita memang serius dengan seruan-seruan solidaritas, kita seharusnya menghentikan subsidi dan merevolusi sistem perdagangan. Artinya, harga makanan di negara-negara industri akan naik,” ujarnya dikutip di laman Radio DWWD, (31/10/2011)

Menurutnya, suara mereka yang lapar hampir tidak didengar. Mereka tidak punya lobi. Kelaparan sering muncul –ini yang ganjil- justru di kawasan tempat produksi makanan, yaitu daerah pedesaan.

“Banyak orang di sini hidup dari pertanian kecil. Mereka tidak punya wakil di institusi ekonomi internasional. Jika sedang dibahas perjanjian ekonomi atau arus perdagangan global, mereka tidak punya suara. Walaupun jumlah mereka banyak.”

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Setengah dari penduduk bumi hidup secara langsung maupun tidak langsung dari produksi bahan pangan. Mayoritas penduduk ini hidup di negara berkembang dan harus membayar mahal untuk sistem ekonomi negara industri. Akibatnya: satu miliar manusia kelaparan atau kurang gizi.

Yang Beruntung dari Kelaparan

Sementara itu, banyak berita tentang bencana kemanusiaan akibat kelaparan. Tapi siapa yang memberitakan tentang pihak-pihak yang menarik keuntungan dari situasi ini?

Harus dikatakan  ada pihak-pihak yang beruntung dari sistem yang menyebabkan kelaparan.

Pertama,  para konsumen di negara industri. Pengeluaran kita untuk makanan lebih sedikit dibanding 20 tahun lalu. Kita senang membeli roti untuk satu Euro dan susu untuk 70 sen. Subsidi yang tinggi menjamin kehidupan nyaman dan dukungan politik. Para petani di negara berkembang hanya bisa memimpikan situasi seperti ini.

Pihak lain yang beruntung adalah perusahaan pertanian besar, yang membanjiri pasar dengan bibit dan bahan pupuk kimia. Yang beruntung adalah para elit di negara industri. Mereka berpolitik untuk para kliennya dan para pemilih di ibukota. Di ibukota ditetapkan, berapa bantuan pembangunan yang mengalir ke kawasan pedesaan. Investasi di kawasan pedesaan dan sektor pertanian sering dianggap kuno.

Swalayan di Jerman – warga Jerman belanjakan 20 persen pendapatan mereka untuk bahan makananSwalayan di Jerman – warga Jerman belanjakan 20 persen pendapatan mereka untuk bahan makanan

Justru negara-negara yang hidup 80 persen dari pertanian merasa yakin bisa mengabaikan sektor ini. Atau lebih drastis: Sebuah negara yang punya lahan pertanian besar dan subur seperti Mosambik sebenarnya bisa menjadi eksportir beras dan jagung. Tapi mereka malah tergantung pada impor. Karena elit politiknya tidak tertarik pada masalah pertanian.

Di sini masih harus dilakukan kerja keras untuk meyakinkan mereka. Dalam setiap pertemuan bilateral dan konferensi internasional. Negara industri hanya bisa melakukan ini, kalau negara berkembang melihat manfaatnya. Yaitu peluang ekspor yang lebih tinggi, akses ke pasar Eropa dan harga yang adil untuk hasil-hasil pertanian di pasaran dunia.

Hentikan Kebohongan

Yang juga beruntung adalah para spekulan di pasar bahan makanan. Bahan pokok dijadikan obyek spekulasi. Pada paruh pertama tahun 2010 harga bahan makanan naik 30 persen. Ini pasar yang menarik bagi para investor dan spekulan. Sementara penduduk miskin di Haiti, India dan Afrika menderita karena tidak sanggup lagi membayar harga tinggi.
 
Jadi, mari hentikan kebohongan. Kelaparan hanya sebagian saja disebabkan oleh perang dan bencana alam. Kelaparan jarang menjadi masalah penduduk miskin di perkotaan. Kelaparan adalah hasil kebijakan politik yang sengaja mengisolasi sebagian penduduk. Kebutuhan dan kesulitan mereka diabaikan dan tidak menjadi perhatian politik di negara-negara maju.

Negara-negara Afrika selama puluhan tahun mengalami ketergantungan dan eksploitasi oleh kekuasaan kolonial. Tahun 1980-an, Dana Moneter Internasional IMF dan Bank Dunia menuntut pembenahan radikal berupa liberalisasi, deregulasi dan privatisasi. Itu yang menjadi tujuan utama. Sekalipun negara-negara Afrika belum siap.

Mereka tidak punya infrastruktur, pendidikan masih terbelakang, sektor ekonomi tidak berfungsi, tidak ada investor domestik. Politik IMF dan Bank Dunia merupakan bencana bagi sektor pertanian, pendidikan dan pelayanan kesehatan.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Suriah Setuju Usulan Liga Arab
Tulisan selanjutnya Zionis Percepat Bangun Pemukiman dan Tahan Uang Palestina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali

Berita
5 Juni 2026 14:35
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?