Hidayatullah.com–Muhammad Elbaradei, mantan pemimpin penyelidik nuklir internasional IAEA yang ingin mencalonkan diri menjadi presiden Mesir, hari Selasa (15/11/2011), memperingatkan kembali kemungkinan terjadinya ‘revolusi orang-orang lapar”, jika negaranya masih tetap tidak stabil.
Dalam wawancaranya dengan koran harian Tunisia Al Shurouk, Elbaradei mencatat bahwa sembilan bulan setelah dimulai revolusi 25 Januari, Mesir masih memberlakukan konstitusi lama. Negara itu juga mengalami rekayasa polarisasi kekuatan kelompok sipil dan agama.
“Kami tidak meniti jalan yang benar pada masa transisi,” kata Elbaradei, dikutip Al Mishry Al Yaum. Ada dua masalah yang dikhawatirkan oleh rakyat Mesir saat ini dalam masalah politik, yaitu negara sipil dan peran agama dalam pemerintahan.
Mengenai kemungkinan kelompok mana yang akan menang, sipl atau agama, ElBaradei merujuk pada hasil pemilu di Tunisia.
“Saya tidak terkejut Partai Nahda Tunisia menang dalam pemilihan parlemen, dan menurut saya partai-partai Islam Mesir juga akan mendapatkan persentasi kursi yang bagus di parlemen,” katanya.
Namun ia menambahkan, “Kita harus mendefinisikan Islam seperti apa yang kita maksudkan, Islam-nya Bin Ladin, Sheikh Hasina … atau Erdogan?”
“Kami salah dalam menangani banyak isu, sehingga kami menjadi musuh bagi diri kami sendiri,” tegas ElBaradei.*