Hidayatullah.com—Amerika Serikat (AS) sering disebut dengan Negara dengan landasan sekuler atau tidak beragama. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian. Belum lama ini, di hadapan lebih dari 3.000 tamu Gedung Putih dalam acara “National Prayer Breakfast” pada hari Kamis (02/02/2012), Obama mengatakan jika kebijakannya dipandu oleh iman Kristennya.
Acara “National Prayer Breakfast” telah menjadi rutinitas Gedung Putih selama lebih dari 60 tahun dan memberikan kesempatan langka bagi anggota parlemen dari spektrum politik yang berlawanan untuk bersatu dalam satu panggung. Untuk ketiga kalinya Obama membahas pentingnya doa kepada tamu yang hadir.
“Momen doa ini telah menenangkan kita dan membuat kita rendah hati,” ujar Obama sebagaimana dilansir cbn.com, Jumat, 03 Pebruari 2012.
Obama mengungkapkan beberapa kebiasaannya secara pribadi dalam hal rohani, seperti doa pagi, membaca Alkitab maupun renungan yang dibagikan oleh para rohaniwan seperti Joel Hunter dan T.D. Jakes. Obama juga menyatakan bahwa pandangan politiknya mengenai “berbagi tanggung jawab” dan pajak yang lebih tinggi bagi orang kaya diambil dari ajaran Yesus.
“Bagi saya sebagai orang Kristen, hal ini juga sejalan dengan ajaran Yesus yang mengajarkan barangsiapa banyak diberi, banyak juga dituntut untuk memberi. Hal ini juga mencerminkan keyakinan Islam bahwa mereka yang telah diberkati memiliki kewajiban untuk menggunakan berkat-berkat itu untuk membantu orang lain, maupun dengan dokrin Yahudi mengenai moderasi dan pertimbangan bagi orang lain,” ungkap Obama.
“The National Prayer Breakfast” ini pada akhirnya menjadi even yang mempelajari kehidupan Yesus.
“Kita tidak memerlukan amandemen konstitusi atau beberapa reformasi kongres besar. Yang kita perlukan hanyalah dengan mulai bertindak lebih baik. Dan Yesus telah memberikan tempat kepada setiap kita untuk memulai hal itu,” ujar Senator Mark Pryor, D-Ark.
Menyoroti isu terbaru dalam “perang budaya”, Erix Metaxas mengingatkan hadirin bagaimana para pemimpin Kristen seperti William Wilberforce dan Dietrich Bonhoeffer berjuang untuk mengakhiri perbudakan dan menghentikan Holocaust. Ia mengibaratkan perjuangan itu dengan perang modern yang belum terjadi.
Metaxas juga mendorong para tamu yang hadir untuk mengasihi dan berdoa bagi semua orang, terutama bagi mereka yang tidak sependapat. Hal itu akan menjadi kunci antara iman yang hidup dan hanya sekedar agama semata.
Sebuah pandangan yang unik dan inspiratif dari para pemimpin Amerika dalam menjembatani perbedaan dan juga masalah-masalah dunia yang terus bergulir akhir-akhir ini. Pada akhirnya hasil dari setiap tindakan merekalah yang akan menentukan bagaimana publik menghargai atau mencaci kinerja mereka.
“The National Prayer Breakfast” diselenggarakan di Washington, D.C., sejak tahun 1953 atas prakarsa pendirinya yaitu Frank Carlson, anggota parlemen AS, gubernur dan senator asal Concordia, Kansas, bersama Hilton dan Billy Graham. Jamuan makan pagi seperti ini rutin diselenggarakan pemerintah dan Kongres serta Senat AS setiap Kamis di minggu kedua awal tahun.*