Hidayatullah.com—Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis belum lama ini, negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) memiliki angka populasi yang rendah dibanding kawasan regional lain, dengan jumlah total kurang dari 1 persen penduduk dunia.
Laporan Kuwait Financial Center (Markaz) tersebut menyoroti perubahan komposisi demografi negara GCC, yang pada tahun 2011 berjumlah hanya 45 juta orang.
Dari jumlah tersebut, lebih dari separuhnya berusia di bawah 25 tahun, meskipun usia itu diharapkan naik menjadi 36 tahun sebelum 2050.
Negara dengan jumlah populasi terbanyak adalah Arab Saudi, dengan angka 28 juta jiwa. Disusul oleh Uni Emirat Arab dengan jumlah 8 juta jiwa.
International Monetary Fund (IMF) memperkirakan negara GCC akan mengalami peningkatan tahunan sebesar 2,41 persen dalam lima tahun ke depan dan menambah populasinya menjadi 49 juta pada tahun 2016.
Tahun 2025 GCC diperkirakan memiliki total poulasi 57 juta, dan naik sebanyak 14 juta pada 2050.
Rata-rata usia terendah penduduk ada di Oman, yaitu 25 tahun. Sedangkan rata-rata usia tertinggi 31 tahun terdapat di Qatar. Rata-rata usia penduduk GCC adalah 27 tahun, di mana lebih dari 20% berusia di bawah 15 tahun. Tulis laporan Markaz, sebagaimana dilansir Arab News (17/7/2012).
Seiring dengan kesadaran gerakan keluarga berencana, tingkat fertilitas di GCC menurun. Terutama di Oman, di mana penurunnya lebih dari 50%. Hal ini bisa jadi dipengaruhi pula oleh semakin meningkatnya biaya kebutuhan hidup.
Di Saudi, usia kebanyakan penduduknya di bawah 30 tahun, dengan rata-rata 26 tahun. Hal tersebut bisa jadi disebabkan tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi, serta usia harapan hidup yang tidak lama.
Jumlah penduduk usia kerja dengan jenis kelamin laki-laki angkanya membengkak. Ini tidak lain dikarenakan membanjirnya jumlah pekerja asing di GCC.
Qatar menjadi negara terbanyak jumlah pendatang asingnya. Hal itu yang menyebabkan angka penduduk pria usia kerja di atas 20 tahun sangat tinggi.
Namun, populasi orang asing di Qatar kemungkinan akan menurun, sebab mulai banyak lapangan pekerjaan yang diisi oleh tenaga kerja lokal.
Di kuwait, mayoritas penduduknya berusia di bawah 35 tahun tetapi di atas 20 tahun. Jumlah penduduk pria dan wanita usia 20-40 tahun juga membengkak. Itu karena banyak orang asing dalam kelompok usia tersebut yang mencari penghidupan di negara kecil itu.
Seperti halnya Qatar, jumlah ekspatriat di Kuwait diperkirakan akan menurun karena banyak lapangan kerja mulai diisi oleh pekerja lokal.
Uni Emirat Arab juga dibanjiri orang asing. Mayoritas penduduk berada dalam kelompok usia 20-60 tahun.
Berdasarkan data Credit Suisse tahun 2010, populasi orang asing di Qatar mencapai 86,5% dari total penghuni negara itu. Di Kuwait 70% penduduknya orang asing, dan di Uni Emirat Arab jumlah penduduk asingnya mencapai 68,8% dari populasi negara.
Dalam lingkup regional, populasi GCC sebanyak 53,43 persen merupakan orang asing. Jumlah itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA), yang hanya 9,5% penduduknya adalah orang asing.
Jumlah ekspatriat terbesar di GCC merupakan para pekerja sektor buruh dengan gaji rendah, disusul kemudian pekerja bangunan berketerampilan rendah, lalu para profesional dan paling sedikit adalah pekerja bidang khusus.
Sebanyak 4,5 juta orang siap memasuki lapangan kerja, padahal di tahun 2010 angka pengangguran di GCC sudah mencapai 5 juta orang. IMF memperkirakan, 2-3 juta orang usia kerja tidak bisa memasuki lapangan pekerjaan.*