Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Biksu Myanmar Mendemo Rohingya Lagi

Ama Farah
Terakhir diupdate:
Ama Farah
Dipublikasikan 5 September 2012 17:06
Bagikan
Biksu Buddha menentang keberadaan Rohingya di Myanmar.
Bagikan

Hidayatullah.com—Belum juga masalah kekerasan atas Muslim Rohingya di Myanmar baru-baru ini diselesaikan, ribuan biksu Buddha kembali berunjuk rasa menentang keberadaan Muslim di negara mayoritas pemeluk Buddha itu.

Dilansir Deutsche Welle, hari Ahad (2/9/2012) ribuan biksu berpakaian rahib warna merah-oranye berbaris di jalanan kota Mandalay, sementara para pendukungnya menyemut di tepi-tepi jalan. Mereka membawa spanduk bertuliskan, “Lindungi ibu pertiwi Myanmar dengan mendukung presiden!”

Menurut pakar masalah Myanmar, Hans-Bernd Zollner, ribuan rahib itu adalah biksu yang sama yang pernah berdemonstrasi pada tahun 2007 menentang junta militer. Junta tersebut yang sekarang mendukung pemerintahan Presiden Thein Sein, pernah menekan para demonstran biksu itu.

Lantas apa yang menyebabkan para biksu itu kini justru berbalik mendukung milliter Myanmar yang menyokong presiden dari militer itu? Tidak lain adalah karena mereka juga menentang keberadaan etnis Muslim Rohingya.

Orang Rohingya kebanyakan tinggal di bagian Barat Myanmar, di negara bagian Arakan atau Rakhine, berbatasan dengan Bangladesh. Mereka tidak dianggap sebagai warga negara dan tidak termasuk etnis minoritas di Burma yang diakui secara resmi oleh pemerintah. Perserikatan Bangsa-Bangsa menganggap Rohingya sebagai salah satu etnis yang paling terancam eksistensinya di dunia.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Muslim dan khususnya Rohingya selalu menjadi bocah yang dicambuk (korban),” kata Zollner kepada Deutsche Welle. Menurut Zollner tradisi penindasan Buddhis atas kaum Muslim sudah berlangsung sejak masa penjajahan Inggris di Burma.

Buddhis memutarbalikkan fakta

Presiden Thein Sein menyalahkan kelompok Muslim dan rahib Buddhis sebagai biang terjadinya bentrokan di antara keduanya. Namun, pada saat yang sama mantan jenderal itu mengatakan kepada badan pengungsi PBB UNHCR bahwa tidak mungkin bagi Myanmar untuk mengakui Rohingya sebagai warganya. Thein Sein berdalih, Rohingya bukan etnis asal Burma dan mereka adalah para pendatang ilegal.

Para rahib itu menggunakan pernyataan Presiden Thein Sein tentang status Rohingya tersebut untuk menentang PBB dan juga eksistensi Muslim Rohingya, kata Phil Robertson wakil direktur Human Rights Watch untuk wilayah Asia.

Robertson mengatakan, para rahib Buddha “menggunakan PBB sebagai semacam target dari kemarahan mereka, dengan menuding bahwa PBB menunjukkan keberpihakan ke salah satu kubu, yaitu mendukung Rohingya dan tidak mendukung Rakhine.”

Sebagaimana diketahui etnis Rakhine beragama Buddha.

Namun Robertson menampik tuduhan keberpihakan itu dan PBB jelas-jelas juga mendukung kelompok Buddhis di Rakhine

“Masalah mendasarnya adalah para biksu itu dan orang-orang yang mendukung mereka … telah memutarbalikkan fakta di lapangan,” kata Robertson.

Hal senada disampaikan oleh peneliti Myanmar asal Jerman, Marco Bunte.

Pemutarbalikan fakta oleh kelompok Buddhis, di mana rasisme dan diskriminasi memainkan peran penting di dalamnya, bukan fenomena baru, kata Bunte. Ketegangan yang selalu ada itu kini mencuat ke permukaan, seperti borok lama yang muncul kembali.

Robertson menggambarkan nasib Rohingya sebagai kunci tonggak demokrasi di Myanmar.

“Rohingya merupakan ujian bagi negara multietnis Myanmar,” kata Robertson. “Sayangnya pemerintah gagal dalam tahap ini,” imbuhnya. Hal itu disebabkan karena pasukan keamanan Myanmar berpihak kepada Buddhis.

Sementara itu menurut Zollner, kasus Rohingya ini agak unik. Oleh karena dampak penderitaan Rohingya hanya memberikan efek kecil bagi persatuan Myanmar, maka tidak ada orang yang mau berpihak kepada Rohingya di dalam negeri. Konsekuensinya, siapapun yang berani menyatakan berpihak pada Rohingya di Myanmar, maka akan kehilangan dukungan dari dan pengaruh atas masyarakat mayoritas Buddhis. Tidak peduli apakah orang itu pejabat pemerintah, oposisi, Aun San Suu Kyi atau para tokoh lainnya.

Selama masalah struktural terkait mayoritas Buddhis di Myanmar tidak dapat diatasi, maka Muslim Rohingya juga tidak akan pernah hidup damai.

Buddhis serang Rohingya

Menjelang rombongan Turki yang disertai Menteri Luar Negeri Ahmet Davutglo dan isteri perdana menteri Turki Emine Erdogan berkunjung ke Myanmar untuk membawa bantuan kemanusiaan, Muslim Rohingya dilaporkan mendapat serangan lagi dari warga Buddhis.

Menurut laporan koran Vatan yang dikutip Today’s Zaman, Jumat (10/8/2012), pembantaian atas Muslim Rohingya meningkat menjelang kedatangan Davutoglu dan Emine Erdogan pada hari Kamis 9 Agustus lalu di Arakan.

Situs Amerika Salem News melaporkan, “Setelah mendengar tentang kunjungan delegasi Turki ke sini (Myanmar), Buddhis menyerbu rumah-rumah Muslim setempat dan membunuh puluha orang. Kami belum pernah melihat pemandangan yang mengerikan semacam itu. Bahkan sutradara yang paling berbakat sekalipun tidak bisa menyuting adegan horor seperti ini.”*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Biksumyanmarold migrateprotesRohingya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Suriah Bergolak Layanan Haji Kekurangan Bus
Tulisan selanjutnya Kartosuwiryo Dinilai Pahlawan Indonesia yang Telah Digembosi Sejarah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Feature
13 Juli 2026 06:38
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?