Hidayatullah.com—Pemimpin Rusia tidak ragu-ragu untuk menunjuk hidung siapa yang dianggap menjadi biang kerok kekacauan yang melanda banyak negara di dunia, termasuk Suriah, yaitu negara-negara Barat.
“Rekan-rekan kita tidak bisa berhenti,” kata Presiden Vladimir Putin saat bertemu para wakil rakyat di salah satu wilayah Rusia.
“Mereka telah menciptakan kekacauan di banyak wilayah, dan mereka sekarang melanjutkan kebijakan yang sama di negara-negara lain, termasuk Suriah,” kata Putin, dikutip Russia Today Kamis (27/9/2012).
Mengomentari Arab Spring dan konflik di Suriah, Putin mengatakan, “Posisi kita adalah untuk membantu melaksanakan perubahan ke arah yang lebih baik di semua negara, tetapi tidak berusaha memaksakannya kepada mereka –khususnya lewat pasukan bersenjata– yang menurut kami adalah benar.”
Penting untuk merangsang perubahan dari dalam, kata Putin.
“Kita telah memperingatkan bahwa diperlukan tindakan bijaksana, dan adalah salah untuk berusaha mencapai tujuan apapun dengan cara kekerasan. Jika tidak, maka kekacauan yang akan terjadi,” kata Putin. “Dan apa yang kita lihat sekarang? Yang terjadi kekacauan.”
Menurut pengamatan Putin, pergantian kepemimpinan yang dipaksakan, seperti yang terjadi di sejumlah negara belum lama ini, tidak menjadikan negara-negara itu lebih aman. Dan kentara sekali, para pemimpin negara-negara tersebut, seperti Muammar Qadhafi di Libya dan Saddam Hussein di Iraq, digulingkan hanya karena mereka tidak menyukai dan tidak pula disukai negara-negara Barat.
Putin menyeru agar para pemimpin negara-negara Barat mengingat sejarah agar tidak “menghancurkan Kartago lagi” dalam hubungan mereka dengan negara-negara lemah.
“Saya benci harus menyaksikan kejadian yang menimpa umat manusia berabad-abad lalu terulang kembali sekarang ini,” kata Putin.
“Negara-negara kuat berusaha untuk memaksakan aturan mereka dan aturan moral mereka kepada negara-negara lemah, tanpa mempertimbangkan sejarah, tradisi dan agama di sebuah negara tertentu,” jelasnya.
Presiden Rusia itu lantas menyebutkan apa yang menurutnya sebagai “kasus pertama pembersihan etnis yang dialami umat manusia.”
“Kekaisaran Romawi tidak hanya menduduki dan menjajah Kartago, tetapi juga menghancurkannya dengan seksama, membunuh semua orang-orangnya dan menerbarkan garam sehingga tidak lagi ada yang bisa tumbuh di negeri itu,” papar Putin.
Menurut Putin, jangan hal-hal baik dari kebudayaan Eropa saja yang harus dikenang. Hal-hal buruk dari budaya Eropa juga harus diingat.
Putin juga mengatakan bahwa negaranya beruntung karena terbentuk dari beragam etnis dan agama. Dan paham orthodoks selalu sangat toleran, menurutnya.
Secara umum, “Kami selalu menghormati semua kelompok etnis, orang dan agama yan ada di dalam negara ini dan kami berusaha melakukan hal yang sama di lingkup internasional,” tegas Putin.
Perdamaian antaragama sangat penting bagi Rusia, kata presiden yang dikenal berkepribadian keras itu.*