Hidayatullah.com—Seorang peneliti kemanan internet divonis 41 bulan penjara dan denda US$73.000 atas dakwaan mencuri data iPad. Andrew Auernheimer dianggap bersalah mengakses server perusahaan raksasa telekomunikasi AT&T secara ilegal dan mencuri lebih dari 100.000 alamat e-mail pengguna iPad pada tahun 2010.
Setelah menghajar Auernheimer dengan vonis berat, hakim federal mengatakan dia berharap hukuman itu akan membimbing terdakwa ke jalan yang benar. Bekas penduduk Arkansas itu, yang akan mendapatkan pembebasan bersyarat setelah 3 tahun dibui, mendapatkan waktu 10 hari untuk mengajukan banding.
Bulan Nopember lalu Auernheimer didakwa melakukan pencurian identitas dan konspirasi untuk mendapatkan akses ilegal terhadap komputer milik orang lain.
“Saya tidak datang ke sini hari ini untuk meminta pengampunan,” kata Auernheimer kepada jaksa distrik Susan Wigenton, dikutip Russia Today Senin (18/3/2014).
“Internet jauh lebih besar daripada yang bisa ditampung oleh hukum manapun. Banyak, banyak pemerintah yang berusaha membatasi kebebasan internet pada akhiranya digulingkan,” tegas Auernheimer.
Saat Auernheimer beribicara, seorang petugas menyuruhnya untuk menyerahkan telepon seluler miliknya, sementara petugas lain memborgol tangannya.
Hakim kemudian menetapkan sidang ditunda sementara, lalu Auernheimer dibawa ke ruang tunggu. Saat dia kembali ke ruang sidang, tubuhnya sudah dirantai. Pinggangnya dililit rantai dan borgol di tangannya dikaitkan ke rantai tersebut. Auernheimer menyeringai kepada para pendukungnya, yang sebagian mengepalkan tangan memberi semangat kepadanya.
Sebelum menghadiri sidang vonis, Auernheimer melakukan jumpa pers singkat di tangga gedung pengadilan, di mana kepada orang yang berkerumun dia berkata, “Saya akan dipenjara karena mengerjakan aritmetika.” Dia berulang kali mengatakan kasusnya bermotif politik.
Jaksa penuntut mengatakan, peneliti keamanan jaringan internet itu merupakan bagian dari kelompok online yang mengakali situs AT&T sehingga membocorkan 114.000 alamat e-mail pada tahun 2010. Dari ribuan alamat e-mail itu terdapat milik Walikota New York Michael Bloomberg, produser film Harvey Weinstein dan orang-orang terkenal lainnya.
Kelompok itu membagikan hasil retasannya ke situs Gawker yang kemudian mempublikasikan informasi tersebut.
Tahun 2011 terdakwa kedua dalam kasus yang sama sudah mengaku bersalah, sementara Auernheimer masih bersikukuh tidak bersalah, dengan mengatakan bahwa dia sedang melindungi publik dari keamanan jaringan internet perusahaan yang rentan.
Kasus Aaron Swartz
Pengadilan atas Auernheimer, sekali lagi menyoroti kasus-kasus pemenjaraan para aktivis internet oleh pemerintah Amerika Serikat dengan tuduhan peretasan.
Dua bulan sebelum vonis atas Auernheimer ini ditetapkan, aktivis internet muda terkemuka lainnya, Aaron Swartz, melakukan bunuh diri pada usia 26 tahun setelah menghadapi dakwaan pengadilan yang sangat berat, karena dituduh secara ilegal mendownload dan merilis jurnal-jurnal yang tersimpan dalam server JSTOR dari jaringan internet di perguruan tinggi terkemuka MIT.
Seperti halnya Auernheimer, Swartz mengaku tidak bersalah dan bertindak atas kepentingan publik. Dia berkeyakinan, informasi publik harus disosialisaikan seluas-luasnya kepada masyarakat. Sebagaimana diketahui JSTOR memberikan akses laporan ilmiah yang tersimpan di servernya sebagian secara gratis dan sebagian lain secara berlangganan.
Pengunduhan atas 4,8 juta artikel oleh Swartz tersebut diketahui oleh JSTOR yang kemudian menyelesaikan kasus itu dengan musyawarah tanpa gugatan ke pengadilan, dan Swartz telah menyerahkan data-data yang berhasil didapatkannya.
Sementara masalah antara Swartz dengan JSTOR sudah selesai, pada bulan berikutnya aparat federal justru menciduk pemuda itu dengan tuduhan pencurian data, penipuan lewat internet, mencuri informasi dari komputer yang diproteksi, merusak komputer yang diproteksi dan lain sebagainya, yang mana tuduhannya berhubungan dengan kasus JSTOR yang sudah selesai di luar pengadilan.
Swartz menyerahkan diri kepada aparat dan menyatakan tidak bersalah atas semua tuduhan. Dia dibebaskan dari tahanan dengan uang jaminan US$100.000 atau sekitar satu milyar rupiah pada September 2012. Jaksa kemudian menambah dakwaan atas Swartz dari empat menjadi tigabelas dakwaan, dengan ancaman hukuman 35 tahun penjara dan denda US$1 juta.
Tidak tahan dengan masalah hukum yang menimpanya, pemuda aktivis internet yang ikut membidani kelahiran aplikasi internet RSS saat berusia 14 tahun dan diakui kejeniusannya oleh banyak rekannya itu memilih bunuh diri pada 11 Januari 2013.*