Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Susahnya Sekuleris-Liberal Mesir Bersatu pasca Mursy

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Juli 2013 09:56 9:56 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Juli 2013 09:56
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Sejak lengsernya dominasi Al Ikhwan al Muslimun, oposisi Mesir non-Islam naik daun secara politis. Contohnya, Mohammad El-Baradei telah ditunjuk militer untuk menjadi wakil Perdana Menteri. Setidaknya sampai sekarang, kekompakan yang tercapai dengan susah payah antara sekian banyaknya partai dan kelompok non-Islam masih bisa bertahan.

Pelajaran dari Tahun 2012

Tak seorang pun melupakan kekalahan pada putaran pertama pemilu presiden 2012. Seandainya mereka saat itu menyepakati satu calon presiden, Al Ikhwan al Muslimun diduga tidak akan berkuasa di Mesir. Juga kampanye Tamarod yang 30 Juni lalu menggiring warga Mesir ke jalan, mencerminkan kesatuan. Menurut Mohamed Doss, seorang pendiri kampanye, kebanyakan organisator Tamarod berasal dari partai-partai politik dan kelompok tersebut.

Namun, setelah Mohammad Mursy tersingkirkan, semakin sulit untuk mempertahankan persatuan. Tapi Ziad El-Alemi, bekas anggota parlemen dan salah seorang pendiri demokrat sosial Mesir, tetap merasa optimis dan mengatakan, para revolusioner dan kekuatan sipil Mesir banyak menimba pengalaman sepanjang dua setengah tahun terakhir. Misalnya, bagaimana untuk mencari kompromi. Semua kelompok ini akan membantu untuk mencapai kesepakatan dalam upaya membangun sebuah negara yang moderat, tambahnya.

Revolusioner versus Simpatisan Rejim Mubarak

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Salah satu tantangan utama bagi partai-partai non-Islam adalah kerja sama dengan pendukung rejim Mubarak. Banyak di antaranya turun ke jalan 30 Juni lalu. Diragukan apakah Mursy saat itu dapat dijatuhkan demikian cepatnya tanpa dukungan kelompok ini. Namun bagi revolusioner muda dari gelombang protes 2011 sangat sulit bekerja sama dengan pendukung Mubarak. Pasalnya, mereka dulu sempat menderita akibat kekerasan dan tindakan brutal aparat keamanan yang saat ini sebagian masih aktif.

Selain itu, kompromi politik sangat sulit karena banyak revolusioner menjunjung hak asasi manusia dan menginginkan reformasi badan politik.   

“Kami tidak dapat menghapuskan kebencian antara revolusioner dan pendukung rejim Mubarak, bila kami tidak mengupayakan keadilan yang sebenarnya. Hal terpenting yang kami pelajari dua tahun terakhir adalah, orang tidak dapat mengawali pembaruan bagi masa depan tanpa menyelesaikan masa lalunya secara tuntas,” ujar Ziad El-Alemi, salah satu pendiri partai Demokrat Sosial Mesir.

Rekonsiliasi yang sulit

El-Alemi menilai rekonsiliasi sangat penting. Namun diperkirakan bahwa untuk jangka pendek, rekonsiliasi antara pendukung Mubarak, rejim militer dan juga dengan Ikhwanul Muslimin akan sangat sulit.

Sampai sekarang pun konflik itu sudah mengemuka. Misalnya yang tercermin pada deklarasi konstitusi yang dikeluarkan Dewan Militer. Ziad Abdel Tawab, wakil direktur Cairo Institute For Human Rights Studies, membenarkan hal itu. Kelompok-kelompok terpenting yang mempelopori pembakangan 30 Juni tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan hingga penunjukkan perdana menteri. Mereka juga tidak diberi peluang untuk menyampaikan hak dan pandangannya dalam perumusan deklarasi konstitusi, tambah Tawab.

Hubungan dengan Islam

Isu konflik lainnya adalah mengenai bagaimana menyikapi kelompok Islam. Pernyataan konstitusi yang dikeluarkan pengganti Mursy menunjukkan dengan jelas bahwa penulis berusaha mengakomodasi kelompok Salafiy. Juga penunjukkan Hezam Beblawi sebagai perdana menteri dapat dilihat sebagai upaya militer menenangkan Islam. Lain halnya dengan Mohammad El-Baradei yang merupakan calon yang tidak begitu mempolarisasi warga.

Semua konflik ini memicu ketegangan besar di antara partai-partai non-Islam. Tampaknya sangat sulit untuk mengontrol kondisi semacam itu.*

Matthias Sailer adalah journalis pada Radio for Deutsche Welle. Tulisan diambil dari laman www.dw.de.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bersatuikhwankubu sekuler-liberal mesirmiiterpecahtamarod
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Makan Empat Kali, Shalat Tarawih Satu Juz
Tulisan selanjutnya Amerika Buka Kembali Kedutaannya di Kairo

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?