LANGIT Pattani terlihat cerah, waktu menunjukkan pukul 5 sore waktu setempat, saat kami memasuki bumi Islam Melayu pada hari kedua perjalanan R4Peace, Ahad (14/7/2013). Namun cerahnya langit tak secerah hati kami. Sepanjang perjalanan dari perbatasan Bukit Kayu Hitam (Malaysia Border’s) hingga Pattani sejauh 100 kilometer lebih kami mendapati sekurangnya 5 checkpoint yang berfungsi sebagai pos penjagaan.
Pos jaga ini dikawal oleh aparat keamanan berseragam militer dan bersenjata lengkap. Nampak terlihat ada halang rintang berupa kawat berduri setinggi 1 meter, pagar-pagar pembatas, pos pengamatan setinggi 4 meter, dan sebuah bungker dari karung-karung berisi pasir yang disusun untuk mengantisipasi adanya baku tembak.
Rupanya aparat keamanan itu adalah Tentara Angkatan Darat Thailand yang sedang mengamankan titik-titik vital di kawasan Pattani. Suasana makin mencekam tatkala para tentara itu menyuruh kami berjalahan perlahan. Namun, Alhamdulillah rombongan R4Peace tak diberlakukan pemeriksaan paspor dan barang-barang kendaraan, karena perjalanan R4Peace ini telah mendapat sorotan yang luas di media-media Malaysia hingga Myanmar.
Sekilas terpampang tulisan berwarna merah menyolok yang bertuliskan nada provokatif “STOP VIOLENCE” dan “STOP BOMB”. Saat kami tanyakan perihal checkpoint penjagaan kepada rakyat Pattani, menurut mereka justru di bulan Ramadhan ini checkpoint ini dikurangi. Biasanya checkpoint digelar tiap 1 kilometer terdapat 1 pos keamanan. Yah, kekerasan memang menjadi hal yang lumrah di Pattani.
Di bulan Ramadhan ini, Kerajaaan Malaysia yang selama ini bertindak sebagai mediator antara pihak pejuang Pattani yang disebut BRN (Barisan Revolusi Nasional) dengan Pemerintah Thai menyerukan, agar kedua belah pihak untuk “cease of fire” (gencatan senjata) selama 40 hari. Tapi, seruan gencatan senjata selama Ramadhan belum cukup untuk meredam gejolak konflik di Pattani.
Senin (15/7/2013) malam saat kami sedang melakukan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan aktivis kemanusiaan di Majelis Musyawarah Ugama Islam Pattani, salah seorang warga melaporkan pada tim R4Peace. Bahwa saat itu juga pada pukul 21.20 waktu setempat salah seorang warga Muslim Pattani di Narattiwat ditembak oleh Tentara Siam.
Narattiwat masih merupakan bagian dari Pattani yang terdiri dari 4 provinsi, yaitu Yala, Narattiwat, Songkhla, dan Pattani. Sebelumnya, pada hari kedua Ramadhan sebuah bom yang ditanam di dalam truk militer di Remang Pattani melukai 8 orang tentara Thailand.
Maju tapi Terjajah
Pattani ternyata masih memendam konflik yang berkepanjangan. Sayangnya, media-media internasioal bungkam seribu bahasa. Seandainya ada berita yang mengabarkan situasi Pattani, masih belum memihak pada rakyat Pattani. Selama ini yang menjadi bayangan penulis ketika mendengar kata Pattani adalah suatu negara yang miskin dan susah karena tertindas.
Tapi saat memasuki kota Pattani, kami sedikit terkejut ketika melihat kenyataan bahwa Pattani adalah kawasan yang cukup maju dan moderen. Jalan-jalan kotanya tertata rapi, penduduknya banyak yang menggunakan mobil double cabin yang tidak murah untuk ukuran orang Indonesia. Perumahannya cukup tertata rapi, dan pasarnya meski terletak di pinggir sungai terlihat rapi, bersih dan tak tercium bau yang menyengat.
Namun demikian, rakyat Pattani masih mendapat perlakuan diskriminatif dan tindakan kekerasan oleh bangsa Siam. Jaringan telepon di Pattani hanya berlaku sebatas di Pattani. Ketika keluar mereka harus meregister nomor handphone agar dapat dipakai di luar Pattani. Begitu juga dengan keberadaan media dan surat kabar di Pattani. Semua jenis media massa Pattani, seperti radio, suratkabar, dan majalah hanya boleh disiarkan dan dikonsumsi oleh penduduk setempat. Pattani terasing di bumi kelahiran mereka sendiri.
Sejak 200 tahun lalu, Pattani telah berusaha untuk mendapatkan hak kemerdekaannya dari Penjajah Siam yang saat ini disebut Thailand. Terakhir, kekerasan semakin meningkat di Pattani saat bulan April 2004 Tentara Siam melakukan penyerangan kepada warga Pattani.
Tim R4Peace berkesempatan mengunjungi sebuah situs berharga yang telah 8 kali dibakar oleh Tentara Siam, yaitu sebuah masjid. Masjid ini menjadi saksi jatuhnya 128 orang korban akibat serangan helikopter yang menjatuhkan bom ke atas masjid tersebut. 38 korban diantaranya masih berada di dalam masjid.
Ialah Masjid Sultan Muzaffar Syah, oleh penduduk setempat biasa disebut “Masjid Gresik”. Sebutan ini karena di Pattani banyak perkampungan orang Indonesia yang telah lama menetap. Para pendatang Indonesia itu lalu menamakan kampungnya dengan nama daerah Indonesia. Selain Kampung Gresik, di Pattani ada Kampung Jambi, Kampung Bogor, Kampung Makassar, dan lainnya.
Kami sempat menjumpai salah seorang tokoh pemuda Pattani bernama Hasan. Ia pernah melakukan riset tentang kedekatan hubungan antara Indonesia dengan Pattani. Ia menceritakan sebuah kisah yang membuat kami sempat terkejut. Ternyata, saat Presiden RI Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, seorang tokoh pejuang Pattani yang bernama Tengku Muhyiddin datang ke Indonesia. Dia meminta Soekarno agar menjadi bagian dari Indonesia.
Secara geografis memang posisi Pattani jauh dari Jakarta. Namun letak Pattani lebih dekat dari Jakarta-Aceh apalagi Jakarta-Merauke. Rakyat Pattani lebih rela menjadi bagian dari Indonesia dibandingkan menjadi bagian dari Thailand. Namun, sayangnya Soekarno menolak permintaan Tengku Muhyiddin saat itu, dengan alasan Pattani berada di bawah jajahan Siam bukan jajahan Belanda. Sejatinya, rakyat Pattani memang merindukan terwujudnya negara “Pattani Daarussalam” yang diperintah dibawah aturan syariat Islam.
Pattani Terkini
Pada awalnya di Pattani semuanya adalah muslim. Namun, untuk menyeimbangkan kekuatan agar tak ada satu etnis yang mendominasi, Bangkok lalu mengirim orang-orang non-Muslim dari berbagai daerah ke Pattani, tujuannya mengasimilasi budaya dan adat istiadat Melayu yang mengakar di Pattani. Saat ini dari sekitar 2 juta orang penduduk Pattani, ada 200.000 penduduk non-Muslim.
Di sisi rakyat Pattani, bangsa Siam dan pemerintahan Thailand adalah penjajah. Sedangkan di sisi Thailand rakyat, Pattani adalah pengganas atau penjahat. Maka, tulisan tulisan “STOP BOMB” dan “ STOP VIOLENCE” di tiap checkpoint penjagaan bagi rakyat Pattani sangat mengintimidasi dan provokatif. Bayangkan, apa yang Anda rasakan jika setiap keluar masuk kampung halaman Anda harus melalui pemeriksaan tiap 1 kilometer.
Saat ini banyak perubahan yang telah terjadi di Pattani. Rakyat Pattani tak hanya berjuang mendapat kemerdekaannya dengan cara gerilya, mereka pun saat ini sudah mulai menilik strategi lain. Saat kami mengadakan diskusi di Majelis Agama Islam di Pattani, banyak pemuda-pemuda Pattani berjuang melalui organisasi kemanusiaan dan Non Government Organisation (NGO/LSM).
Mereka memperjuangkan hak-hak rakyat Pattani yang terdiskriminasi dan mendapat perlakuan tak manusiawi melalui jalur hukum. Mereka juga banyak beraktivitas di bidang medis untuk memberikan pertolongan atas korban kejahatan Tentara Siam. Pada pertemuan kami itu, kami saling berbagi-tukar informasi dan berusaha memecahkan masalah yang dihadapi Muslim Pattani.
Langit masih cerah saat kami meninggalkan Pattani di pagi hari. Secercah harapan menggurat kalbu saat kami menatap senyum optimis yang tergaris para pengantar kami. Satu pelajaran berharga kami dapati di Pattani. Kemerdekaan itu mahal harganya. Ia tak bisa ditebus dengan harta yang melimpah, ia tak bisa dibayar dengan apapun jua. Meski alamnya subur, sumber daya alam dan hasil laut melimpah, penduduknya lihai berdagang dan makmur. Tanpa merdeka semua itu tak berharga.*
Fajar Shadiq, penulis adalah Tim Media Forum Indonesia Peduli Suriah (FIPS) dalam Misi Kemanusiaan R4Peace. Artikel ditulia di Prachuap Kiri Khan, 227 Km Selatan Bangkok