Hidayatullah.com—Anggota Dewan Syura Arab Saudi menasehati Komisi Anti Korupsi Nasional (Nazaha) agar tidak menghabiskan waktu dalam kasus-kasus korupsi kecil dan lebih berkonsentrasi memerangi korupsi dalam proyek-proyek besar.
Hal itu disampaikan Dewan Syura dalam sesi tanya-jawab dengan Nazaha baru-baru ini, lansir Arab News Rabu (18/9/2013).
Dewan Syura menegaskan bahwa Nazaha memainkan peran penting dalam pemberantasan korupsi di Kerajaan Arab Saudi. Mereka dapat memanggil lembaga-lembaga pemerintah lain dengan mandat serupa guna berkoordinasi dalam pemberantasan korupsi.
Sementara itu dalam masukannya kepada Dewan Syura, Komisi Hak Asasi Manusia mengatakan, badan-badan pemerintah seharusnya wajib memenuhi panggilan dari Nazaha dalam penanganan kasus dan meminta agar Nazaha membuat kriteria yang jelas tentang pembagian tugas, mana kasus yang akan ditindaklanjuti regulator dan mana yang ditangani lembaga investigasi.
Seorang anggota Dewan Syura mempertanyakan laporan Nazaha yang hanya memberikan perincian untuk 50 kasus, sementara disebutkan bahwa Nazaha menerima pengaduan sebanyak 228 kasus korupsi.
Anggota Syura lainnya ingin mengetahui lebih lanjut apakah Nazaha hanya menerima laporan kasus korupsi dari masyarakat atau berinisiatif memeriksa proyek-proyek yang potensial terjadi kasus korupsi di dalamnya.
Oleh karena sesi itu merupakan yang pertama kalinya, Dewan Syura menyarankan agar dalam sesi selanjutnya Nazaha menyertakan rencana, tujuan dan strateginya untuk masa depan.
Awal pekan ini Raja Abdullah memerintahkan pihak-pihak berwenang agar Nazaha diberikan para petugas yang berkualifikasi baik guna menjalankan tugasnya.
Nazaha juga diminta tidak mengumumkan nama dan kasus korupsi yang ditanganinya, sebelum benar-benar pasti bahwa tuduhan korupsi itu benar-benar terjadi atau bukan prasangka belaka.
Tahun lalu Nazaha menerima 1.000 laporan dugaan kasus korupsi dan penyelewengan.*