Hidayatullah.com—Bukannya melafalkan takbir sebanyak-banyaknya, Muslim Mesir yang melaksanakan shalat Idul Adha di Masjid Istiqama di Giza hari Selasa (15/10/2013) justru berlomba saling meneriakkan dukungan kepada mantan presiden Mursy dan Menteri Pertahanan Jenderal Abdul Fattah al-Sisi.
Perseteruan itu dimulai ketika seorang pendukung Mursy mengacungkan tangan dan jarinya dengan simbol pro-Mursy ke arah para jurnalis foto, yang sedang meliput shalat Idul Adha itu dari atas jalan layang.
Simbol Rabaa berupa empat jari tangan teracung atau posternya yang berlatar warna kuning menjadi simbol bagi para pendukung Mursy, setelah pada bulan Agustus lalu aparat membubarkan mereka dari Lapangan Rabaa al-Adawiya.
Dimulai oleh tindakan satu orang pro-Mursy itu, teman-temannya yang lain kemudian mengikuti gerakannya seraya meneriakkan yel-yel anti-tentara dan mendukung Rabaa sambil menghadap kamera para jurnalis.
“Abdul Fattah [al-Sisi] adalah penjagal,” teriak mereka.
Sedangkan kelompok pro-Sisi yang berkumpul di balik besi pembatas yang mengelilingi masjid membalasnya dengan teriakan, “Kami mencintaimu Sisi.”
Seorang perempuan bernama Asmaa Abdulaziz yang bekerja sebagai pegawai negeri dan pro-Mursy mengatakan, “Ketika sesuatu dicuri darimu, maka kamu harus mendapatkannya kembali dengan cara damai,” katanya kepada Ahram Online.
Sementara Ramy, seorang pemuda yang berdiri di antara kedua kelompok yang berseteru itu mengaku khawatir bentrokan itu akan mengarah kepada kekerasan.
“Setiap orang punya hak menyatakan pendapat. Saya hanya berharap ini tetap bisa berlangsung damai,” katanya.
Meskipun aksi saling umpat sudah mulai mengibaratkan masing-masing tokoh sebagai hewan, Mursy dibilang seperti domba dan Al-Sisi dibilang seperti keledai, bentrokan itu perlahan mereda.
Dalam khutbah Idul Adha imam masjid menyampaikan kepada para jamaah agar menghindari isu-isu politik mengingat hari itu adalah hari raya yang sangat penting artinya bagi seluruh Muslim.
Satu-satunya kelompok yang tetap damai ketika itu mungkin anak-anak di jalanan yang terlihat dibelikan balon warna-warni oleh orangtuanya dan mengenakan pakaian baru setiap hari raya sebagai tradisi mereka.*