Hidayatullah.com–Pemerintah Filipina dan kelompok pejuang Muslim terbesar di negara itu menandatangani perjanjian perdamaian bersejarah untuk secara resmi mengakhiri pertempuran selama puluhan tahun yang telah menewaskan lebih dari 120.000 orang.
Berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani hari Kamis (27/3/2014), Front Pembebasan Islam Moro (MILF) akan menyerahkan senjata dengan imbalan otonomi politik lebih besar di wilayah Mindanao selatan yang mayoritas penduduknya Muslim.
Penandatangan dilakukan Pemimpin Front Pembebasan Islam Moro (MILF) Al Haj Murad Ibrahim dan Presiden Filipina Benigno Aquino, disaksikan PM Malaysia Najib Razak dan Penasehat Kepresidenan untuk Proses Perdamaian, Teresita Quintos-Deles di Istana Malacanan, Manila.
Diberitakan VOA, Kamis (27/3/2014), Presiden Benigno Aquino memuji kesepakatan itu sebagai “jalan yang dapat mengarah pada perubahan permanen di Mindanao Muslim.”
Namun kesepakatan yang merupakan hasil perundingan sejak tahun 2001 itu, masih menghadapi sejumlah kendala.
Satu kelompok sempalan MILF, Pejuang Kemerdekaan Islam Bangsamoro (BIFF,) telah berjanji akan terus memerangi pemerintah sampai kemerdekaan penuh dicapai. Abu Sayyaf, kelompok Islam lainnya juga beroperasi di daerah tersebut.
Kongres Filipina juga harus menyetujui satu “undang-undang dasar” untuk menciptakan kerangka politik bagi daerah otonom, yang akan disebut Bangsamoro. Banyak yang mengatakan kesepakatan itu harus disetujui sebelum akhir masa jabatan Presiden Aquino, yang akan berakhir pada pertengahan 2016.*