Hidayatullah.com—Seorang remaja Mesir yang pergi ke Amerika Serikat untuk mengikuti sebuah gelaran sains bergengsi memutuskan meminta suaka ke negeri Paman Sam, dengan alasan takut dituduh ikut unjuk rasa anti-pemerintah di Kairo jika dirinya kembali pulang ke negara asalnya.
Abdullah Assem, remaja penemu kacamata untuk orang lumpuh supaya bisa mengoperasikan komputer dan berkomunikasi dengan orang lain, terbang ke Los Angeles pada 12 Mei 2014 untuk mempresentasikan karyanya di International Science and Engineering Fair, kata pengacaranya di Amerika Farida Chehata dilansir Reuters (21/5/2014).
Tiga hari kemudian, remaja berbakat usia 17 tahun itu mengontak petugas di kantor organisasi Muslim Council on American-Islamic Relations (CAIR) di Los Angeles, di mana Assem menjelaskan kekhawatirannya jika kembali ke Mesir, kata Chehata yang juga pengacara CAIR.
Dengan dukungan kedua orangtuanya di Mesir, Assem memutuskan tinggal di Amerika Serikat dan mencari suaka, kata Chehata yang akan mewakili remaja itu dalam aplikasinya. Assem saat ini belum memasukkan aplikasinya ke pihak imigrasi AS.
“Sangat disayangkan dan sangat menyedihkan melihat anak-anak dengan potensi besar untuk melakukan hal-hal hebat dilumpuhkan oleh pemerintah di sana dengan alasan apapun dan tanpa proses hukum,” kata wanita pengacara itu.
Menurut Chehata, Assem ditangkap di Kairo pada 25April lalu dengan tuduhan ikut serta dalam aksi unjuk rasa dan membakar dua mobil polisi, saat sedang menuju Kairo dari rumahnya di Assiut mencari peralatan elektronik untuk keperluan proyek sekolahnya.
Chehata mengatakan tuduhan itu palsu dan Assem tidak ikut unjuk rasa tersebut. Dia khawatir Assem tidak akan mendapatkan sidang yang adil dan akan dipenjarakan untuk kejahatan yang tidak dilakukannya.
Chehata menjelaskan, pihak berwenang Mesir awalnya tidak mengizinkan Assem terbang ke Amerika Serikat untuk mengikuti pameran sains, yang berhadiah total lebih dari US$5 juta untuk peserta dari lebih 70 negara itu, tetapi akhirnya memperbolehkannya setelah sebuah media di Mesir memberitakan kasusnya.
Assem saat ini tinggal di rumah keluarga seorang temannya di Los Angeles.
Perwakilan dari penyelenggara acara pameran sains yang disponsori Intel Corp itu tidak bisa dikontak untuk dimintai komentar.
Sedangkan kantor kejaksaan di Mesir dan Kementerian Pendidikan tidak bisa dimintai komentar di luar jam kerja, serta jurubicara Kementerian Luar Negeri Mesir menolak untuk membuat pernyataan.
Seorang jurubicara dari kantor US Citizenship and Immigration Services juga menolak untuk memberikan komentar.*