Hidayatullah.com–Terkait munculnya kelompok militan yang mendeklarasikan Daulah Islamiyah Iraq wa Syam (ISIS/ISIL) mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyalahkan kegagalan kebijakan AS dibawah kepemimpinan Presiden Barack Obama.
Dalam wawancara yang disiarkan pada hari Ahad dan dikutip Arabnews, Senin (11/8/2014), Hillary secara khusus menyalahkan keputusan AS untuk tetap sekadar mengamati keadaan dan tidak terlibat dalam masalah pemberontakan terhadap Presiden Suriah Bashar Assad.
Hillary menganggap keputusan AS itu sebagai sebagai pembuka jalan bagi faksi pemberontak dan mujahidin, yakni kelompok yang akhirnya mendirikan ISIS.
“Kegagalan untuk membantu membangun sebuah kekuatan perlawanan yang dapat dipercaya dari orang-orang yang pertama kali melakukan protes terhadap Assad – ada Islamis, ada sekuler, ada yang pertengahan – telah menimbulkan kevakuman yang cukup serius, dimana kelompok jihadis sekarang telah mengisi kevakuman itu,” kata Clinton dikutip the Atlantic.
Sebelumnya, Hillary pernah memberi usulan untuk mempersenjatai pasukan oposisi Suriah ketika ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada masa jabatan pertama Obama. Namun usulannya itu tidak dijalankan.
Dia diwawancarai sebelum diambilnya keputusan presiden AS pada hari Kamis yang memerintahkan untuk melakukan serangan udara terbatas yang ditujukan untuk menghentikan serangan ISIS ke Kurdistan, yang mengancam warga dan fasilitas AS, dan menyebabkan ribuan warga Kurdistan mengungsi dan melarikan diri ke pegunungan. [baca: Pemboman AS di Iraq untuk Kepentingan Perusahaan Minyaknya]
Hillary dalam wawancara itu menyatakan Obama tidak memiliki strategi untuk menghadapi ancaman ISIS.
“Negara-negara besar memerlukan prinsip-prinsip yang mesti diatur secara sistematis, dan ‘Jangan melakukan hal-hal bodoh’ yang bukan prinsip,” katanya mengacu pada slogan Obama.
Dia mengatakan AS harus mengembangkan strategi “menyeluruh” untuk menghadapi ekstremisme.
Khawatir tentang apa yang terjadi di Timur Tengah saat ini adalah karena kemampuan dari para pelarian dari kelompok-kelompok ini yang dapat menimbulkan efek pada Eropa dan AS,” katanya.
“Kelompok-kelompok Jihadis yang memerintah wilayah tersebut tidak akan pernah tinggal disana. Namun mereka didorong untuk memperluas wilayah,” tambahnya.*