Hidayatullah.com–Para petugas pemakaman di Sierra Leone membiarkan mayat-mayat pasien Ebola di jalanan di luar sebuah rumah sakit sebagai protes karena bonus yang seharusnya mereka terima khusus menangani mayat penderita Ebola belum dibayar.
Warga setempat mengatakan sekitar 15 mayat dibiarkan tergeletak di kota Kenema, yang mana tiga di antaranya menghalangi jalan masuk ke rumah sakit.
Kepala Ebola Response Team di distrik tersebut, Abdul Wahab Wan, mengatakan hari Selasa (25/11/2014) bahwa di antara mayat terdapat dua bayi yang meninggal karena Ebola.
Seorang jurubicara para pekerja yang melakukan mogok itu, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa mereka belum mendapatkan bayaran tunjangan mingguan selama 7 pekan.
Pihak berwenang mengakui bahwa upah para pekerja belum dibayarkan, tetapi mereka juga mengatakan para pekerja yang melakukan mogok itu semuanya akan dipecat.
“Memajang mayat-mayat dengan cara sangat sangat tidak manusiawi itu sama sekali tidak bisa diterima,” kata Sidi Yahya Tunis, juru bicara untuk National Ebola Response Centre.
Menurut Tunis, pemerintah pusat sudah membayar upah pekerja melalui tim manajemen kesehatan di distrik tersebut.
“Seseorang di suatu tempat perlu diselidiki guna mengetahui ke mana uang-uang itu pergi,” kata Tunis kepada Reuters dikutip Aljazeera.
Pekerja kesehatan di Sierra Leone dan Liberia beberapa kali melakukan unjuk rasa menuntut pembayaran upah dan kondisi lingkungan kerja mereka yang berbahaya.
Dua pekan lalu para pekerja angkat kaki dari sebuah klinik di Bo, Sierra Leone, guna memprotes masalah yang sama.*