Hidayatullah.com—Israel dikabarkan membeli sebnyak 77% kebutuhan minyaknya dari Pemerintah Regional Kurdistan (KRG) di utara Iraq, sehingga kelompok separatis itu memiliki uang untuk mendanai perang melawan ISIS/ISIL. Demikian menurut laporan Financial Times Senin (24/8/2015).
“Kami tidak peduli ke mana minyak itu pergi setelah kami mengirimkannya kepada para pedagang,” kata seorang penasihat senior pemerintah Kusdistan di Arbil seperti dikutip Financial Times.
“Prioritas kami adalah mendapatkan uang tunai untuk mendanai pasukan Peshmerga kami melawan Daesh (ISIS/ISIL) dan membayar gaji pegawai negeri,” imbuh orang itu.
Financial Times menyebutkan bahwa berdasarkan data pengapalan, sumber-sumber perniagaan dan pelacakan tanker dengan satelit, diketahui bahwa pengilangan dan perusahaan-perusahaan minyak Israel mengimpor lebih dari 19 juta barel minyak Kurdi dari bulan Mei hingga 11 Agustus tahun ini.
Berdasarkan harga pasar internasional saat ini, impor minyak Israel tersebut bernilai hampir US$1 milyar.
“Itu setara dengan kira-kira 77 persen rata-rata kebutuhan [minyak] Israel, yang mencapai kira-kira 240.000 barel perhari. Sepertiga lebih dari seluruh ekspor minyak dari wilayah utara Turki, yang dikapalkan lewat pelabuhan Turki di Mediterania, Ceyhan, selama sekian lama ini dikirim ke Israel,” kata laporan itu.
Menurut laporan itu, Italia dan Prancis juga muncul sebagai pembeli minyak Kurdi terbesar.
“Itu merupakan perdagangan yang dilakukan melalui perjanjian pra-bayar rahasia yang dijembatani oleh beberapa perusahaan dagang minyak, termasuk Vitol dan Trafigura,” kata laporan tersebut.
Pemerintah Israel tidak memberikan komentar mengenai negara penyuplai sumber energinya selama ini. Hal itu dianggap sebagai bagian dari masalah keamanan nasional.
Laporan itu juga menyebut bahwa berdasarkan informasi dari orang dalam, Israel masih terus mengimpor minyak dari Azerbaijan, Kazakhstan dan Rusia, sebagai penyuplai utama kebutuhan energinya selama sepuluh tahun terkhir.*