Hidayatullah.com—Menteri Pertahanan Amerika Serikat Ashton Carter hari Rabu (14/10/2015) mengindikasikan bahwa Amerika Serikat akan tetap mempertahankan keberadaan pasukan militernya di Afghanistan pasca 2016.
Berdasarkan rencana yang ada saat ini, Amerika Serikat akan menarik sebagian besar pasukannya pada akhir 2016 dari sekitar yang ada saat ini 10.000 menjadi sekitar 1.000 personel.
Menyuarakan ulang apa yang pernah dikatakannya dalam pertemuan NATO pekan lalu di Brussel, Belgia, Carter mengatakan bahwa penting bagi Amerika Serikat untuk “memformulasikan opsi-opsi untuk tahun 2016 dan setelahnya, dan membuat penyesuaian-penyesuaian berdasarkan pada keadaan saat ini perihal kehadiran AS [di Afghanistan] yang sudah terencana.”
Pemerintahan Presiden Obama menghadapi hujan kritik atas rencana penarikan pasukan AS dari Afghanistan. Para penentangnya mengatakan tindakan itu (penarikan pasukan) justru akan mengakibatkan Afghanistan semakin menjadi bulan-bulanan serangan Taliban.
Perubahan rencana tentang keberadaan pasukan AS dan NATO dilakukan menyusul serangan Taliban beberapa waktu lalu, yang berhasil menguasai kota Kunduz. Pasukan Afghanistan yang dilatih AS dan NATO mengklaim telah berhasil menguasai kembali kota itu.
“Penting untuk mengatakan hal ini karena narasi yang menyebutkan bahwa kita meninggalkan Afghanistan itu berarti mengaku kalah sendiri,” kata Carter dalam sebuah pertemuan militer AS di Washington seperti dikutip AFP.
“Kita tidak, kita tidak boleh, dan melakukan hal itu tidak menguntung bagi keberhasilan-keberhasilan yang telah kita capai hingga saat ini,” imbuh bos Pentagon itu.
Pasukan AS dan sekutunya dari NATO telah berada di Afghanistan sejak tahun 2001, dengan dalih memerangi terorisme.
Meskipun Amerika Serikat saat ini merupakan pengirim pasukan terbanyak, pekan lalu Carter mengatakan bahwa menteri-menteri pertahanan NATO berkata kepada dirinya bahwa mereka terbuka untuk mengubah komposisi personel yang ada sekarang ini.*