Hidayatullah.com–Paus Fransiskus meminta maaf kepada kaum Protestan dan Gereja Kristen lainnya atas penganiayaan yang dilakukan kaum Katolik, dalam upaya terbarunya untuk membina kesatuan umat Kristen.
Vatikan mengumumkan, pada 31 Oktober Paus Fransiskus akan pergi ke kota Lund di Swedia, tempat Federasi Dunia Lutheran (LWF) didirikan pada 1947, untuk kebaktian bersama kaum Lutheran dalam peringatan Reformasi Protestan yang akan berlangsung di seluruh dunia tahun depan.
Martin Luther, pria berkebangsaan Jerman, diakui sebagai perintis Reformasi Protestan pada tahun 1517 dengan menulis 95 tesis yang mengkritik Gereja Katolik karena menjual pengampunan dosa dengan uang, demikian dikutip BBC, Selasa (26/01/2016).
Langkah itu berujung pada perpecahan politik di seluruh Eropa dan dalam agama Kristen, memicu diantaranya Perang 30 Tahun di Eropa, penghancuran biara di Inggris, dan pembakaran sejumlah ‘orang sesat’ di kedua pihak.
Kelompok tradisionalis Katolik menyalahkan Fransiskus karena sikapnya yang terlalu longgar terhadap Lutheran, khususnya dalam “doa bersama” yang akan digunakan kedua agama selama peringatan Reformasi Protestan 2017.
Mereka menyebut doa tersebut terlalu memuji Luther, yang dikecam sebagai orang sesat dan dikucilkan.
Meski demikian, Paus Fransiskus telah menjadikan dialog antar agama sebagai keunggulan dalam masa jabatannya.
Rekonsiliasi
Dialog teologi antara Katolik Roma dan Lutheran dimulai pada akhir 1960-an setelah Konsili Vatikan II. Namun penganut Katolik dan Lutheran belum secara resmi diizinkan untuk mengambil komuni di kebaktian satu sama lain.
Sekretaris Jenderal LWF, Martin Junge, mengatakanbahwa perpecahan antara Katolik dan Lutheran merupakan persoalan masa lalu.
“Saya yakin bahwa dengan berupaya mewujudkan rekonsiliasi antara Lutheran dan Katolik, kita berusaha mewujudkan keadilan, perdamaian, dan kerukunan di dunia yang terpecah-belah oleh konflik dan kekerasan,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip kantor berita AFP.
Acara di Lund ialah bagian dari proses dialog antara gereja Katolik dan Lutheran, yang berusaha menyepakati penyebab Reformasi. Kedua gereja sepakat pada tahun 1999 dalam pernyataan bersama tentang persoalan teologi yang menjadi akar pergolakan tersebut.
Di antara persoalan itu adalah pertanyaan apakah manusia dapat masuk surga dengan amal baik ataukah keselamatan hanya datang lewat kasih sayang Tuhan.*