Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

PM Prancis Dukung Larangan Kerudung Muslimah di Universitas

Ama Farah
Terakhir diupdate: 15 April 2016 15:03 3:03 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 15 April 2016 13:23
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Perdana Menteri Prancis Manuel Valls mengatakan bahwa kerudung wanita Muslimah harus dilarang di lingkungan universitas. Komentar itu mengundang kecaman dari sebagian rekan satu partainya.

Dilansir France24, dalam wawancara panjang dengan koran Prancis Libération yang dipublikasikan hari Selasa (12/4/2016), perdana menteri dari Partai Sosialis itu ditanya secara langsung apakah larangan kerudung yang sekarang ini sudah diterapkan di sekolah-sekolah negeri dan di lingkungan kerja sektor publik harus diperluas ke lingkungan universitas.

Valls menjawab “seharusnya dilakukan demikian,” meskipun dia mengakui bahwa ada peraturan dalam konstitusi yang membuat larangan semacam itu sulit dilakukan.

Prancis, yang menerapkan secara ketat pemisahan antara gereja (agama) dengan negara dan melihatnya sebagai bagian fundamental dari nilai-nilai negara, memiliki sejumlah hukum sekularisme yang paling keras di dunia.

Pemerintah melarang penggunaan secara berlebihan (terang-terangan) simbol-simbol keagamaan, termasuk kerudung dan salib, di sekolah dasar dan menengah pada tahun 2004. Sementara hukum yang sudah berlaku selama puluhan tahun mewajibkan pekerja sektor publik bersikap imparsial, yang artinya juga mereka tidak bisa mengenakan pakaian atau asesoris yang mengekspresikan agama dan kepercayaannya.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Sebagia rekan satu partai Valls di Partai Sosialis yang berkuasa saat ini menilai larangan kerudung yang diperluas hingga ke lingkungan universitas terlalu berlebihan.

Najat Vallaud-Belkaem, menteri pendidikan, berpendapat larangan kerudung tidak bisa diperluas ke universitas. Menurut wanita itu, yang merupakan keturunan migran Muslim asal Maroko, mahasiswa sebagai orang dewasa memiliki hak kebebasan berpikir dan kebebasan beragama.

“Universitas-universitas kita juga memiliki banyak mahasiswa asing. Apakah kita akan melarang mereka akses karena di dalam budaya mereka ada jenis pakaian tertentu,” imbuhnya saat wawancara dengan stasiun radio RMC.

Menteri Pendidikan Tinggi Thierry Mandon mengatakan tidak perlu ada undang-undang berupa larangan seperti itu.

“Ini adalah para mahasiswa, yang sebagai orang dewasa memiliki hak untuk mengenakan kerudung,” kata Mandon kepada radio RTL. “Jika saya punya kesempatan untuk berbicara dengannya (Valls), saya akan katakan kepadanya tidak perlu bertindak demikian.”

Berbicara kepada France24 profesor sosiologi Universitas Paris VIII Eric Fassin menuding PM Valls “membuat-buat masalah.”

Menurut Fassin, “menghapuskan agama [dari universitas] sama seperti menghapuskan politik. Orang dewasa adalah warganegara, mereka memiliki hak untuk berpendapat.”

“Satu-satunya alasan [kerudung] dilarang adalah jika ada masalah. Namun semua orang setuju –dan rektor-rektor universitas telah mengkonfirmasi– bahwa tidak ada masalah dengan kerudung. Jadi perdana menteri ini menbuat-buat masalah.,” imbuh Fassin.

PM Valls dalam wawancara yang dirilis Libération itu mengatakan “sekularisme ada dalam DNA kita. Wajar jika kita memperdebatkannya.”

“Republik ini dibangun dalam rangka menentang kekuatan Gereja Katolik. Pada masa sekarang ini adalah kebangkitan Islam radikal yang melawan sekularisme,” imbuhnya.

“Saya yakin dengan negara ini, pesan-pesannya dan nilai-nilai universal yang dimilikinya. Saya ingin kita dapat menunjukkan bahwa Islam … pada dasarnya kompatible dengan Republik ini, dengan demokrasi, nilai-nilai kita dan kesetaraan antara pria dan wanita,” kata Valls.

PM Manuel Valls adalah satu dari sedikit menteri dalam pemerintahan yang mendukung pernyataan Menteri Hak-Hak Wanita Laurence Rossingnol, yang awal bulan ini mengatakan bahwa kerudung dipakai sebagai alat politik bagi “para wanita yang diperbudak,” ketika mengomentari soal peluncuran produk hijab oleh rumah mode Dolce & Gabbana. Rossignol membandingkan pengguna kerudung dengan “orang-orang Negro (kulit hitam) yang mendukung perbudakan.”*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ketua MUI: Terorisme Bentuk Reaksi Suatu Kelompok Atas Ketidakadilan Negara
Tulisan selanjutnya Sekolah di Riyadh Libur Setelah Musibah Badai

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Berita
31 Mei 2026 04:41
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?