Hidayatullah.com—Amerika Serikat telah mengaktifkan stasiun pertahanan anti rudal berbasis di darat di Rumania, yang akan menjadi bagian dari sistem pertahanan yang lebih luas untuk melindungi wilayah Eropa.
Dilansir BBC Kamis (12/5/2016), para pejabat Amerika Serikat dan NATO menghadiri peresmiannya di Deveslu, sekitar 180 kilometer arah barat daya ibukota Bukares.
AS mengatakan sistem Aegis itu merupakan tameng pelindung negara-negara anggota NATO dari serangan rudal jarak pendek hingga menengah, khususnya yang berasal dari Timur Tengah.
Di pangkalan tersebut ditempatkan radar dan penangkal rudal SM-2, dan akan diintegrasikan ke dalam tameng rudal NATO ketika anggota blok pertahanan itu bertemu pada musim panas tahun ini.
Sistem pertahanan itu memungkinkan kapal-kapal perang dan tempat-tempat di lepas pantai menembak jatuh rudal balistik musuh ketika masih berada di udara.
Rudal interseptor ditembakkan untuk menangkal rudal musuh sebelum kembali memasuki atmosfer dan menghancurkannya sebelum menimbulkan kerusakan atau mencapai targetnya.
Amerika Serikat diyakini telah menghabiskan dana 800 juta dolar untuk membangun sistem pertahanan anti rudal itu di Rumania, yang dimulai sejak 2013.
Hari Jumat ini tahap lain dari proyek itu akan diluncurkan di Polandia, yang berlokasi di Redzikowo, dekat Laut Baltik. Rudal-rudal Aegis akan dioperasikan di sana mulai 2018.
Sementara itu, Rusia melihat aktivasi sistem pertahanan tersebut sebagai ancaman terhadap keamanannya, sebuah klaim yang dibantah oleh NATO.
Moskow berpendapat pemasangan tameng anti rudal semacam itu di negara-negara tetangga sebelahnya merupakan ancaman terhadap Rusia.
“Sistem ini untuk melawan siapa?” tanya juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov.
“Dari penjelasan awal yang diberikan kepada kami katanya untuk menangkal serangan potensial yang datang dari Iran … Sekarang kami tahu situasinya telah berubah dramatis,” kata Peskov. Sebagaimana diketahui Iran adalah sekutu dari Rusia.
Baik pejabat AS maupun NATO berusaha menenangkan Moskow dengan mengatakan bahwa sistem anti rudal itu tidak akan membahayakan sistem pertahanan rudal balistik antarbenua Rusia.
“Interseptornya terlalu sedikit dan ditempatkan jauh di selatan atau terlalu dekat ke Rusia untuk dapat menangkal rudal-rudal balistik interkontinental Rusia,” kata Sekjen NATO Jens Stoltenberg.
Menurut petinggi NATO itu rudal-rudal interseptornya dirancang untuk menangkal rudal jarak pendek dan menangah yang berasal dari area di luar Euro-Atlantik.*