Hidayatullah.com—Bagi 4 juta orang di dunia, isolasi fisik dan sosial menjadi penyebab mereka mengalami kesepian kronis. Akibatnya, sekarang ini banyak peneliti khawatir bahwa kesepian akan menjadi masalah kesehatan global, yang bisa merenggut nyawa manusia.
Namun, bagi Silvia Pablo, cacat fisik berat yang dideritanya tidak justru membuatnya bersedih hati, apalagi merasa menderita karena kesepian.
Gadis berusia 21 tahun warga Guatemala itu bukannya tidak pernah merasa sendiri. Dia dilahirkan dengan cacat fisik berat berupa spina bifida, tulang belakang terbuka. Dia dikurung di dalam rumah oleh ibunya selama 10 tahun, setelah ayahnya pergi meninggalkan mereka.
Namun, kondisi cacat fisik dan ayah yang menelantarkan keluarga tidak lantas membuatnya patah semangat menjalani kehidupan. Kata Silvia, keimanan dalam dada yang membantunya mengatasi kesulitan sehari-hari.
“Saya kira kebahagian saya datang dari Tuhan,” kata gadis itu, yang sekarang sudah memiliki kursi roda sendiri dan bekerja di sebuah pabrik.
“Ya memang ada kalanya datang masa-masa sulit. Namun, dengan bantuan Tuhan, kita bisa mengatasi segala rintangan dan situasi menyedihkan. Kita perlu menjalani hidup sebagaimana kita dilahirkan dalam kondisi itu .. dan berusaha bahagia melalui keimanan dalam dada.”
Orang seperti Silvia di Guatemala tidak hanya satu.
Meskipun negara itu memiliki angka kekerasan dan kemiskinan tinggi, serta korupsi merajalela, tetapi negara itu konsisten masuk dalam 10 peringkat negara yang penduduknya paling bahagia di dunia.
“Guatemala sering ditemukan dalam daftar global ketidaksetaraan dan kekerasan tertinggi; lebih dari 50 persen populasi hidup dalam kemiskinan dan sekitar 13 orang dibunuh setiap harinya,” lapor wartawan Aljazeera David Mercer dari Antigua.
“Meskipun demikian sejumlah jajak pendapat internasional menunjukkan bahwa orang-orang di sini termasuk yang paling bahagia di dunia,” lapor Mercer, Ahad (31/7/2016).
Selain keimanan dan keluarga, menurut psikolog Andres Pinto, ketahanan menghadapi berbagai situasi merupakan kunci yang membantu orang-orang di negara itu memerangi rasa kesepian, kegelisahan dan depresi.
“Banyak orang Guatemala yang telah merasakan penderitaan, dan mereka tidak punya apa-apa lagi untuk dikorbankan,” kata Pinto. “Ketika mereka menghadapi masalah, mereka tahu bahwa mereka harus bekerja keras untuk mengatasinya. Tentu saja tidak semua kita bisa seperti itu, tetapi orang-orang yang memiliki ketahanan itu dapat memberikan banyak pelajaran kepada kita.”
Orang yang bahagia bukan mereka yang memiliki paling banyak, kata Silvia Pablo, melainkan mereka yang paling bersyukur atas apa yang mereka miliki.*