Hidayatullah.com—Di saat perdebatan mengenai pakaian renang burkini (burqini) menjadi polemik politik di Eropa, para ahli kanker kulit yang mengadakan kongres di Austria justru menyatakan pakaian renang yang biasa digunakan wanita Muslim itu bisa menyelamatkan nyawa dan menjaga kesehatan.
Demikian salah satu kesimpulan para dalam Kongres Dunia ke-16 untuk Kanker Kulit (WCC) di Ibu Kota Austria baru-baru ini.
“Kanker kulit yang berpotensi fatal (mengancam nyawa) seperti (kanker kulit) melanoma atau kanker yang berasal dari lapisan epidermis paling bawah (karsinoma sel basal) yang disebabkan oleh paparan sinar ultraviolet,” ujar para peneliti dilansir Xinhuanet, Jumat, (02/09/2016).
Para ahli yang berkumpul dalam Kongres Ke-16 Dunia mengenai Kanker Kulit (WCCS) itu mengatakan pontensi kanker kulit yang mematikan seperti melanoma atau Basal-cell karsinoma adalah penyebab utama akibat pajaan terhadap Sinar Ultra Violet, demikian laporan Austria Press Agency dikutip Xinhuanet.
Kasus kanker jenis itu telah meningkat secara dramatis sejak Perang Dunia II, dan diproyeksikan meningkat lagi dalam beberapa dasawarsa ke depan, demikian laporan Xinhua yang dikutip Kamis.
Tabir matahari bukan cara yang efektif dalam melindungi manusia dari kanker kulit, dan satu studi Jerman yang diperlihatkan oleh para ahli menunjukkan bahwa perkembangan pendahulu melanoma tidak berkurang dengan penggunaan losion dan krim semacam itu.
Ahli dermatologi Jerman Claus Garbe mengatakan pakaian, seperti dalam bentuk “burkini” adalah cara terbaik dalam melindungi kulit dari kanker.
Sebelumnya, Aheda Zanetti, desainer burkini yang bermarkas di Sydney mengatakan kepada kantor berita Reuters, sementar Eropa banyak melarang, penjualan model baju renang menutup seluruh tubuh ini justru makin dicari.
Yang mengejutkan, saat ini separuh dari semua orang yang mengenakannya adalah orang non-Muslim.*