Hidayatullah.com—Gereja Lutheran Norwegia hari Senin (30/1/2017) menggelar pemungutan suara untuk memutuskan bahasa seremonial baru yang memungkin pastor menyelenggarakan perkawinan sesama jenis, menjadikan gereja itu sejalan dengan beberapa denominasi mainstream Kristen Protestan di luar negeri.
April 2016 dalam konferensi tahunannya Gereja Lutheran Norwegia memutuskan untuk mendukung prinsip perkawinan sesama jenis, tetapi tidak setuju dengan kata-kata yang dipergunakan dalam seremoni perkawinan homoseksual.
Keputusan hari Senin itu mencakup perubahan teks seremonial perkawinan menjadi netral gender, menghilangkan kata “mempelai wanita” dan “mempelai pria”. Liturgi baru akan diberlakukan mulai hari Rabu ini, lapor Reuters.
Pada 2015, Gereja Protestan Prancis memperbolehkan pemberkatan perkawinan sesama jenis. Sementara di negeri seberang, Gereja Presbitarian Amerika Serikat menyetujui perubahan kalimat dalam konstitusi gereja untuk memasukkan perkawinan sesama jenis.
“Saya berharap semua Gereja di dunia dapat terinspirasi dengan liturgi baru ini,” kata Gary Sandaker-Nilsen, pimpinan Gereja Public Terbuka, kelompok dalam Gereja Lutheran yang mengkampanyekan perubahan peraturan tersebut.
Norwegia menjadi negara kedua di dunia setelah Denmark yang memperbolehkan pelaku homoseksual mendaftarkan hubungan mereka secara legal sebagai pasangan di tahun 1993, dan memperbolehkan pernikahan sipil homoseksual sejak 2009.
Sekitar 73 persen warga Norwegia adalah anggota Gereja Lutheran menurut data resmi statistik tahun 2015. Jumlah pengikut gereja itu terus menurun selama beberapa dekade terakhir.*