Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Anak-Anak Yatim Rohingya Korban Kekejaman Militer Myanmar

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 September 2017 08:22 8:22 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 September 2017 08:20
Bagikan
ada 1400 anak Rohingya di Kam Pengungsi Kutupalong, sebagian besar adalah yatim
Bagikan

Hidayatullah.com–Rashid baru berumur 10 tahun, tapi bahunya yang kecil telah membawa tanggung jawab –dia harus merawat adik perempuannya yang berusia enam tahun–, Rashida.

Keduanya,  termasuk di antara sekitar 1.400 anak-anak Rohingya yang tiba di Bangladesh di dekat perbatasan Myanmar tanpa disertai kedua orang tua mereka, yang terbunuh atau hilang setelah tindakan brutal militer Myanmar di negara bagian Rakhine bagian barat.

Rashid berkabung atas kehilangan kedua orang tuanya -Zahid Hossain (ayah) dan Ramija Khatun (ibu), yang, katanya, dibunuh oleh militer Myanmar.

Rohingya menuduh tentara Myanmar, dengan riwayat melakukan kekejaman terhadap masyarakat etnis, dengan menggunakan serangan oleh kelompok bersenjata Rohingya sebagai dalih untuk memaksa etnis Muslim itu keluar dari Myanmar.

Ketika anak-anak lain bersenang-senang melakukan aktivitas di Children’s Room (CFS) di kamp pengungsi Kutupalong di sini, Rashid hanya duduk diam dan melihat kegembiraan teman-temannya yang lain.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Dia mengatakan, kini tinggal bersama orang tua dan saudara kandung lainnya di desa Shikderpara di Maungdaw, sampai militer Myanmar melancarkan serangan ke desa tersebut pada 25 Agustus 2017, termasuk aksi pembunuhan massal dan pembakaran desa Rohingya – sebuah tindakan yang dilihat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai contoh “buku teks pembersihan etnis”.

Peristiwa itu akan menjadi kenangan hitam yang tidak akan pernah Rashid dan Rashidah lupakan sampai akhir hayat mereka.

“Itu hari jumat. Aku meraih tangan kakakku (Rashidah) dan berlari menuju bukit terdekat untuk menyelamatkan diriku. Setelah menemukan bahwa serangan militer telah berangsur-angsur hilang, saya kembali menemukan orang tua saya, sayangnya mereka terbunuh.

“Saya berjalan selama tiga malam untuk sampai ke perbatasan Bangladesh dan saya menyeberangi Sungai Naf untuk sampai ke sini sehari sebelum Idul Adha, 1 September,” katanya kepada Aljazeera .

Ditanya tentang saudara kandungnya yang lain, Rashid mengatakan, sampai sekarang situasinya tidak pasti, namun sempat mendengar bahwa semua juga terbunuh dalam serangan brutal tersebut.

Baca: Kejahatan Tentara Myanmar: Bayi dan Anak-Anak Rohingya Disembelih

Anak laki-laki yang putus asa ini tinggal dengan tetangganya, yang, katanya, baik kepadanya, dan juga kepada saudara perempuannya.

Pusat CFS, yang didukung oleh UNICEF bekerja sama dengan lembaga bantuan lokal, kini menjadi tempat berlindung bagi anak-anak trauma, dan banyak di antara mereka yang terlalu muda untuk memahami betapa besarnya tragedi tersebut.

“Ketika dia [Rashid] datang pada hari pertama, setiap beberapa menit dia akan mendatangi saya dan mengatakan orang tuanya telah meninggal,” kata Faria Selim, Faria Selim, spesialis komunikasi di UNICEF Bangladesh.

“Dia sedikit mereda dalam beberapa hari terakhir setelah dia datang ke sini,” katanya.

Rashid mengatakan dirinya telah keluar dari sekolahnya di Myanmar, tapi dia menyukai CFS, yang buka enam hari dalam seminggu.

Selim menginformasikan bahwa ada 42 CFS di Ukhia dan Teknaf, tempat menampung hampir 429.000 pengungsi Rohingya, yang telah tiba sejak 25 Agustus.

“Di sini tidak ada kesempatan untuk diserang, tidak ada yang mengawasi kita Semua orang bebas melakukan apapun,” kata Rashid kepada Aljazeera  .

Rashid mengaku ingin menjadi guru sehingga nantinya bisa mengajar anak-anak Rohingya lainnya.

‘Saya melihat militer menembaki orang tua saya’

Dilara Begum (11), dan Ajija Begum (9) juga telah kehilangan orang tua mereka. Kakak perempuan masih shock dan nyaris tidak berbicara.

“Tepat sebelum makan siang, ibu saya Hamida Begum meminta saya untuk bermain di tempat rumah kami sehingga ayah saya bisa bersiap untuk bekerja,” kata Ajija.

Baca: Catatan Kekerasan Militer Myanmar terhadap Etnis Rohingya

Saat Ajija sedang bermain dengan saudara perempuannya Dilara dan Mushtakim dia mendengar suara tembakan. Mereka akhirnya berlari ke semak-semak dekat rumah mereka di desa Bargojibil di Maungdaw. Bersembunyi di balik semak, Ajija melihat militer menembaki orang tuanya.

Ajija tidak kembali dan dalam kekacauan, dia kehilangan saudara perempuannya. “Di daerah bukit, tetangga saya menawari saya tumpangan setelah mendengar orang tua saya terbunuh,” katanya.

Dia bertemu dengan saudara perempuannya di kamp di Kutupalong. Mushtakim, yang secara mental masih mengalami kesedihan mendalam, sekarang pulih dari luka cedera peluru. Delapan dari saudara kandungnya juga terbunuh dalam serangan tersebut.

Kembali ke Myanmar, Ajija sering menghindari pergi ke sekolah saat tentara secara teratur berkunjung ke sana. Dilara tidak pernah bersekolah.

“Saya senang berada di Bangladesh karena tidak ada rasa takut terbunuh, saya telah membuat banyak teman di sini, saya memiliki waktu yang lebih baik,” kata Ajija.*>> klik (BERSAMBUNG) militer menyerbu rumah..

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:anak RohingyaAnak Yatim Rohingyaetnis Muslim RohingyainggrisMarzuki DarusmanMasjid TurkiMiliter BurmaMuslim Arakanmuslim RohingyamyanmarOKIOperasi Pembersihan etnisPBBpelatihan militerpembakaranpembersihan etnispenyelidik hak asasi manusiaRakhineRohingyasenjata militer MyanmarTim Pencari Fakta PBB
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Aksi Peduli, PKS Kabupaten Tangerang Kumpulkan Rp 400 Juta untuk Rohingya
Tulisan selanjutnya AU Libya: Lebih dari 100 Migran Hilang Akibat Kapal Karam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?