Hidayatullah.com–Sekitar 3.000 orang berpartisipasi dalam demonstrasi anti xenofobia dan rasisme hari Sabtu saat anggota Warga Eropa Patriotik Melawan Islamisasi Barat (PEGIDA) menggelar ulang tahun ketiga di Dresden, Jerman.
Beberapa anggota parlemen Partai Alternatif untuk Jerman (AfD), yang baru terpilih juga ikut berbicara dalam rapat umum tersebut. Anggota parlemen Saxony Heiko Hessenkemper mengatakan kepada kerumunan bahwa AfD akan “berjuang untuk mengakhiri perampasan dan kepunahan Jerman”, kutip Deutsche Welle.
Heiko Hessenkemper dan Jens Maier, anggota parlemen dari Partai Alternatif untuk Jerman (AfD), mendapatkan 12,6 persen suara pada Pemilu yang diadakan pada 24 September, menunjukkan eksistensi kelompok ekstrim sayap kanan yang biasa disebut “Identitaere Bewegung”.
Baca: Anti-Islam PEGIDA Eropa Gelar Demo Besar Tolak Imigran
Selama demonstrasi PEGIDA, di Dresden juga ada demonstrasi oposisi.
Sekitar 600 petugas polisi bertugas dalam demonstrasi tersebut.
Kelompok PEGIDA yang dikenal anti-Islam dan anti-imigran telah menyelenggarakan aksi pertamanya pada tanggal 20 Oktober 2014 di Dresden. Sebanyak 350 orang berpartisipasi dalam demonstrasi ini, yang dikoordinasi oleh 12 orang melalui situs jejaring sosial.
Setelah aksi demo yang pertama ini, jumlah peserta yang berpartisipasi dalam aksi demo yang dilakukan setiap hari Senin selalu meningkat. Pada pertengahan bulan Januari 2015 telah peserta aksi demo ini mencapai 25 ribu orang. Namun setelah itu, beberapa bulan setelahnya persertanya berkurang, dengan jumlah peserta sekitar 500 sampai dua ribu orang.
Baca: 100 Ribu Anti-Islam ‘Pegida’ Menentang Islamisasi di Barat
Media Jerman pernah melaporkan Pegida tumbuh dari sebuah grup Facebook yang diluncurkan oleh Lutz Bachmann, 41 tahun, seorang ahli masak yang beralih menjadi desainer grafis.
Tahun lalu, Bachmann didakwa menebar pesan yang bertujuan menimbulkan kebencian luas untuk terhadap pengungsi dengan sebutan “sapi” dan “sampah” di media sosial.
Bachmann, didakwa pada Oktober 2015. Ia menebarkan kebencian berbau rasial lewat pesan di akun Facebook. Ia mengaku pernah dipidana pada masa lalu, termasuk pengedaran obat terlarang. Dia mengatakan dia sudah menghabiskan dua tahun di penjara.*