Hidayatullah.com–Turki memecat lebih dari 18.500 orang dari pekerjaan mereka di berbagai institusi pemerintah, dengan alasan membahayakan keamanan negara. Langkah itu diambil hanya sehari menjelang pelantikan periode kedua Recep Tayyip Erdogan sebagai presiden yang digelar hari Senin 9 Juli.
Dilansir Bloomberg, sekitar 9.000 personel kepolisian dan lebih dari 6.000 anggota militer termasuk dalam kelompok 18.632 orang yang dipecat sebagai pegawai negeri hari Ahad 8 Juli. Dari jumlah itu, hampir 200 orang merupakan akademisi dan 650 orang bekerja sebagai guru, menurut keputusan pemerintah tersebut.
Selain pemecatan belasan ribu pegawai negeri, pemerintah Turki juga menutup tiga surat kabar, satu saluran televisi dan 12 asosiasi.
Dengan demikian, pemerintah Turki sudah memecat sekitar 130.000 orang dari pekerjaannya sejak percobaan kudeta Juli 2016.
Keputusan itu diambil pemerintah hanya beberapa hari sebelum status negara dalam keadaan darurat berakhir.
“Tindakan pelungsuran baru-baru ini tersebut merupakan upaya lebih jauh konsolidasi kekuasaan yang terus dilakukan oleh Erdogan sejak percobaan kudeta,” kata Ghanem Nuseibeh, pendiri konsultan risiko politik Cornerstone Global Associates yang berbasis di London, lewat email seperti dikutip Bloomberg (8/7/2018). “Pelungsuran itu mengejutkan dilihat dari besarannya dan banyak kalangan akan menuding Erdogan berusaha memburu siapa saja yang menentangnya,” imbuh Nuseibeh.*