Hidayatullah.com— Komite Anti Korupsi Saudi yang dipimpin Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Mohammad bin Salman, hari Sabtu, 4 November 2017 menangkap 11 pangeran, empat menteri yang masih menjabat, dan belasan eks anggota kabinet pemerintahan.
Di antara puluhan pangeran dan pengusaha yang ditangkap termasuk di antara mereka yang memiliki pengaruh besar dalam sistem politik dan ekonomi Saudi.
Komisi Anti-korupsi Arab Saudi menjadikan Hotel Ritz-Carlton sebagai penjara bagi tersangka korupsi di Arab Saudi. Lebih dari 30 pejabat senior bersama keluarga mereka memadati hotel elite tersebut.
Akibat kasus ini, ruang serbaguna atau hall milik Hotel Ritz-Carlton di Riyadh, Arab Saudi, kini menjadi perhatian dunia.
Para terduga kasus korupsi ini diinapkan di ruang serba guna. Mereka tidur di lantai beralaskan matras dan berdempetan satu dengan lainnya.
Tempatnya terkesan mewah dengan lampu-mapu kristal yang menggantung di atas plafon, dinding berukur, dan karpet lembut yang tebal.
Ruang serba guna Ritz-Carlton selama ini memang menjadi salah satu tempat penting pertemuan bisnis muapun pemerintahan di Riyadh.
Beberapa minggu yang lalu, hotel ini menjadi tuan rumah pertemuan investor terkemuka dari seluruh dunia.
Sebanyak 11 pangeran, bersama empat menteri dan sepuluh mantan menteri yang ditangkap, di antaranya adalah Abdullah al-Sultan, Kepala Angkatan Udara Saudi, dan mantan direktur jenderal Saudia Airlines, Khalid al-Mulheim. Inilah nama-nama mereka.
Pangeran Waleed bin Talal
Al-Waleed yang berusia 62 tahun itu, adalah cucu dari dua tokoh penting dalam sejarah Arab, yaitu Raja Abdulaziz Al-Saud sang peletak Arab Saudi modern, dan Riad al-Solh, Perdana Menteri pertama Libanon.
Kekayaannya senilai US $ 18 miliar, dan ia memegang saham di Newscorp, Citigroup, 21st Century Fox dan Twitter.
Pangeran Al-Waleed terjun ke dunia bisnis pada akhir 1980-an, dan membangun kerajaan bisnisnya yang terdiri dari sejumlah bank, hotel-hotel mewah, dan kepemilikan media.
Beberapa dekade kemudian, pangeran ini menjadi salah seorang investor terkenal dunia, dan termasuk pengkritik keras Presiden AS Donald Trump.
Majalah Forbes memperkirakan nilai kekayaan Al-Waleed mencapai US$18,7 miliar, menempatkannya dalam posisi 45 orang terkaya sedunia tahun ini. Dia sendiri sudah masuk ke daftar itu sejak 1988, setahun setelah daftar tahunan itu pertama kali dirilis oleh Forbes. Dan kabarnya, menurut Forbes, sang pangeran flamboyan itu sendirilah yang mengontak media itu.
Pangeran Miteb bin Abdullah
Pangeran Miteb bin Abdullah memimpin pasukan elit Garda Nasional, dan merupakan putra Raja Abdullah.
Pangeran Miteb bin Abdullah dituduh melakukan penggelapan pajak, merekrut karyawan fiktif, dan memberikan kontrak terhadap perusahaannya sendiri, termasuk kesepakatan senilai USD10 miliar untuk walkie talkie dan rompi antipeluru.
Jabatan Pangeran Miteb sebagai menteri Garda Nasional Arab Saudi akhirnya dicabut dan digantikan Pangeran Khaled bin Ayyaf. Aset bisnisnya termasuk Hotel de Crillon di jantung Kota Paris, senilai US $ 354 juta.
Bakr bin Laden
Bakr bin Laden adalah pemilik Saudi Bin Laden Group, pengembang terbesar di Arab Saudi. Binladin Group adalah sebuah perusahaan konstruksi multinasional yang cukup besar di Arab Saudi dan lebih dari 30 negara, menjadikan Bakr bin Laden pialang kekuasaan yang semakin berpengaruh di ibu kota perniagaan Saudi.
Saudara kandung Osama bin Laden ini sering disebut sebagai penguasa sebenarnya di Jeddah.
Khalid al-Tuwaijri
Khalid al-Tuwaijri adalah individu bukan saudara raja paling kuat di Arab Saudi. Al-Tuwaijri yang juga mantan Ketua Royal Court, badan yang mengelola urusan putra mahkota dibawah Raja Abdullah yang dikenal sebagai orang dekat Pangeran Mohammad.
Tahun 2005 saat naiknya Raja Abdullah, dia diangkat menjadi Kepala Pengadilan Kerajaan mengganti Mohammad bin Abdullah Al-Nuweisir. Al-Tuwaijri kurang disukai karena dinilai banyak membawa “proyek westernisasi” di Arab Saudi, dan dituduh mencoba terlalu “melindungi” raja dengan mencegah sebagian besar anggota keluarga kerajaan untuk menemuinya.
Saleh Abdullah Kamel
Saleh Abdullah Kamel adalah bos Grup Dallah al Barakah, di antara konglomerat terbesar di Timur Tengah. Saleh Abdullah Kamel pernah dinobatkan Forbes di urutan ke-959 orang terkaya di dunia. Di usianya yang ke-75, Saleh Kamel memiliki kekayaan sebesar 1,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp 24,7 triliun.
Dia dikenal merintis industri keuangan Islam. Putranya baru-baru ini menyumbangkan US $ 10 juta kepada Universitas Yale di Amerika Serikat untuk menumbuhkan sebuah lembaga hukum Islam.
Alwaleed al-Ibrahim
Alwaleed al-Ibrahim adalah Ketua MBC Media Group, perusahaan penyiaran komersial paling sukses di Timur Tengah. Dia juga meluncurkan Al-Arabiya tahun 2003 dalam upaya untuk bersaing dengan agen penyiaran Aljazeera berbasis di Qatar.*