Hidayatullah.com–London memberikan waktu kepada Moskow sampai akhir hari Selasa (13/3/2018) untuk menjelaskan penggunaan gas saraf kualitas militer yang dipakai untuk meracuni mantan agen ganda Rusia Sergei Skripal dan putrinya Yulia di kota Salisbury.
Hari Senin, PM Theresa May mengatakan kepada parlemen Inggris bahwa diduga kuat Rusia di balik upaya pembunuhan atas bekas mata-matanya di selatan England.
Dia juga mengatakan bahwa Inggris akan mengambil tindakan terhadap Rusia.
Dubes Rusia di London sudah dipanggil untuk menjelaskan kepada Menlu Inggris Boris Johnson bagaimana bisa gas saraf itu digunakan, lapor Euronews.
Hubungan Inggris dan Rusia sudah tegang sejak pembunuhan bekas agen KGB Alexander Litvinenko tahun 2006, yang tewas setelah meminum teh hijau bercampur zat radioktif polonium-210 di sebuah restoran di London.
Penyelidikan yang dilakukan Inggris menyimpulkan pada 2016 bahwa Litvinenko dibunuh dinas rahasia Rusia, kemungkinan atas perintah Presiden Vladimir Putin.
Janda Litvinenko mengatakan Inggris harus membalas dengan menjatuhkan sanksi atas individu-individu yang terlibat peracunan Skripal.
Sergei Skripal merupakan pensiunan intelijen militer Rusia. Skripal, 66, dan putrinya Yulia, 33, ditemukan tak berdaya di sebuah restoran di Salisbury pada 4 Maret. Hasil tes menunjukkan keduanya terpapar racun jenis gas saraf dengan kualitas militer yang diketahui dikembangkan oleh Rusia. Kondisi keduanya kritis, tetapi stabil.
Sedikitnya 21 orang termasuk petugas yang turun di lokasi kejadian ikut dirawat di rumah sakit karena terkontiminasi gas saraf mematikan itu.
Ratusan pengunjung bar dan restoran di TKP juga diimbau untuk mencuci barang-barang milik mereka guna mencegah hal tak diinginkan.*