Hidayatullah.com—Dewan Federasi Rusia akan memberlakukan sanksi balasan terhadap Amerika Serikat, kemungkinan menyangkut komponen-komponen titanium yang dipergunakan Boeing, menurut senator Sergey Ryabukhin.
“Di antara logam-logam alam langka yang Rusia pasok untuk Amerika Serikat adalah titanium, yang diperlukan dalam siklus teknologi produksi Boeing,” kata Ryabukhin kepada kantor berita RIA Novosti seperti dilansir RT Jumat (13/4/2018).
Rusia juga bisa melarang ekspor mesin-mesin RD-180 yang dipergunakan NASA dan Pentagon, imbuh senator itu.
“Mesin-mesin roket ini dipergunakan tidak hanya oleh NASA tetapi juga oleh Pentagon di satelit-satelit mereka. Itu artinya AS menggunakan mesin-mesin roket ini untuk meluncurkan satelit-satelit militer mereka,” kata Ryabukhin.
Sebelumnya pada hari Jumat, wakil-wakil rakyat di parlemen Rusia mengumumkan perihal sanksi balasan terhadap Amerika, yang pekan lalu menjatuhkan sanksi atas Rusia. Menurut wakil ketua Duma (majelis rendah parlemen Rusia) Ivan Melnikov, tindakan balasan Rusia tersebut akan termasuk pemutusan kerja sama dengan AS dalam industri nuklir, pembuatan pesawat terbang dan pesawat luar angkasa.
“Rusia mampu untuk ‘mengusik’ AS dengan menghentikan atau sangat membatasi kerja sama di bidang antariksa, atau dengan memangkas suplai komponen untuk pesawat Boeing dan menutup pasokan titanium,” kata Petr Pushkarev, analis kepala dari TeleTrade.
Sampai tahun lalu, 40 persen komponen pesawat yang terbuat dari titanium buatan Rusia dijual kepada Boeing dan 60 persen kepada rivalnya di Eropa Airbus, menurut seorang jubir perusahaan milik negara Rusia Rostec.
“Kami memiliki joint venture dengan Boeing Amerika. Lokasinya berada di kawasan Pegunungan Ural, di Verkhbyaya Salda, dimana produksinya dikerjakan dengan teknologi yang benar-benar unik. Kami menyuplai bukan titanium, melainkan komponen jadi dari titanium. Dan teknologi pembuatannya merupakan milik Rusia,” kata Viktor Kladov kepada Rossiyskaya Gazeta.
Jubir kepresidenan Rusia Dmitry Peskov mengatakan Kremlin akan menganalisa rancangan undang-undanganya, tetapi tidak memberikan waktu pasti kapan akan diterapkan. “Kami perlu waktu untuk menganalisa sudut pandang anggota-anggota parlemen Rusia yang mengusulkan RUU itu, guna merumuskan seperti apa nantinya,” kata Peskov kepada para jurnalis hari Jumat (13/4/2018).*