Hidayatullah.com–Tujuh orang terbunuh dan 20 lainnya terluka pada Senin ketika seorang pelaku serangan bom mencoba meledakkan pertemuan ulama di Kabul.
Pengeboman itu terjadi tidak lama setelah para ulama tersebut mengeluarkan fatwa yang melarang bom bunuh diri dan menyerukan perundingan damai untuk mengakhiri perang.
“Serangan bunuh diri, ledakan yang menewaskan orang, menyebabkan perpecahan, pemberontakan, berbagai macam korupsi, perampokan, penculikan dan segala jenis kekerasan itu dianggap sebagai dosa besar dalam Islam dan bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu Wata’ala,” fatwa itu dikutip laman pajhwok.
Baca: Pasca 2014 Ribuan Tentara Amerika Tetap Bercokol di Afghanistan
Menurut kepala kepolisian distrik 5, pelaku meledakkan bomnya di dekat pintu masuk komplek pertemuan yang telah dijaga ketat. Ketika para partisipan pertemuan bersiap untuk meninggalkan tempat itu, kata Ghafoor Aziz.
Taliban menyangkal keterlibatan mereka dalam serangan terhadap pertemuan ulama tinggi di Kabul.
Baca: Tambah Pasukan, Amerika Ingin Keruk Kekayaan Tanah Aghanistan
Setidaknya dua polisi termasuk dalam korban luka, jubir kepolisian Kabul mengatakan.
Rasa kedamaian di Afghanistan terkoyak sesaat setelah masuknya invasi Negara Barat pimpinan Amerika Serikat (AS), tepatnya pada 7 Oktober 2001.
Afghanistan yang dikenal memiliki ribuan sumber energi dan mineral tinggi –termasuk kromium, tembaga, emas, biji besi, berbagai logam mulia, ladang gas alam dan minyak bumi yang belum tergali– yang belum dieksplorasi menjadi rebutan Barat.*/Nashirul Haq AR