Hidayatullah.com–Pemain Swiss berdarah Albania, Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri, dihukum larang bermain 2 laga karena selebrasi gol mereka ketika bertanding melawan Serbia dengan FIFA mengatakan pada Sabtu bahwa komite disiplinnya telah membuka penyelidikan terhadap keduanya.
Xhaka dan Shaqiri merayakan gol mereka dengan membuat simbol nasionalis etnis Albania. Kedua pemain membentuk tangan mereka seperti sayap untuk menggambarkan apa yang terlihat seperti elang kepala dua di bendera Albania. Dengan kedua jempol menggambarkan dua kepala elang, sementara jari menggambarkan sayap.
Berdasarkan kode disiplin pasal 54 FIFA , “Siapapun yang memprovokasi publik selama pertandingan akan dilarang bermain dua pertandingan dan dijatuhi denda minimal 5.000 franc Swiss (Rp. 71,2 juta),” kutip Daily Sabah.
Shaqiri dilahirkan di Kosovo, bekas Provinsi Serbia yang menyatakan kemerdekaannya pada 2008.
Serbia tidak mengakui kemerdekaan Kosovo dan hubungan antar kedua negara masih tegang. Orang tua Xhaka berasal dari Kosovo dan mereka keturunan Albania. Saudara laki-lakinya bermain untuk tim nasional Albania.
Perang selama bertahun-tahun di Balkan telah mengirim banyak keluarga ke negara-negara Eropa barat, termasuk Swiss. Negara itu memiliki puluhan etnis Albania di program sepak bola nasional mereka.
Sementara itu, dua menteri Swiss menyatakan dukungannya pada Xhaka dan Shaqiri.
“Siapapun yang mengalami atmosfir menggairahkan permainan dapat lebih menghargai penampilan tim nasional kita dan dapat mengerti emosi yang keluar dari seorang pemain,” ujar Menteri Pertahanan, Perlindungan Sipil, dan Olahraga Guy Parmelin mengatakan pada Neue Zurcher Zeitung (NZZ).
Baca: Politisi Serbia Penjahat Perang Balkan Mengaku Tidak Kapok
Menteri Luar Negeri Swiss juga ikut mendukung kedua pemain itu.
“Saya tidak ragu bahwa anda dapat merasakan emosi patriotik untuk tanah air yang ada di dalam anda, tanpa melupakan akar anda,” katanya. “Itu akan menjadi sebuah pukulan keras jika mereka di skors.”
FIFA mengatakan pihaknya telah membuka penyelidikan disiplin terhadap Asosiasi Sepak Bola Serbia atas gangguan penonton dan menampilkan pesan-pesan politik dan ofensif oleh fans Serbia. FIFA juga sedang meninjau ulang pernyataan pelatih Serbia Mladen Krstajic setelah pertandingan.
Serbia menolak mengakui kemerdekaan bekas provinsinya Kosovo, yang 1,8 juta penduduknya kebanyakan etnis Albania, yang memisahkan diri 10 tahun lalu.
Baik FIFA dan rekan Eropanya, UEFA, memisahkan Serbia dan Kosovo ketika melakukan undian untuk kompetisi internasional.*/Nashirul Haq AR