Hidayatullah.com–Warga Somalia yang lulus dari perguruan tinggi Turki pada Senin (20/08/2018) mengutuk sanksi AS terhadap Turki dan mendesak rekan-rekan mereka untuk membantu negara Turki melalui masa-masa sulit mereka.
Dalam sebuah pernyataan, Asosiasi Lulusan Somalia-Turki mengatakan mendukung Turki dan Somalia akan berdiri bersama Turki.
“Kami sebagai warga Somalia lulusan universitas Turki menyerukan kepada warga Somalia dan pelaku bisnis untuk mendukung Turki dengan membeli produk Turki,” katanya dikutip Anadolu Agency.
“Seluruh dunia harus tahu bahwa kami, Somalia, bersama Turki, negara yang tidak membiarkan kita sendirian selama menghadapi masalah.” tambahnya.
Baca: Bela Turki Hadapi Amerika, Qatar Investasi 15 Miliar USD
Turki dan AS saat ini mengalami hubungan bilateral yang buruk setelah Washington memberlakukan sanksi terhadap Turki karena tidak membebaskan Pastor Andrew Brunson asal Amerika yang menghadapi tuduhan terkait terorisme di Turki.
Gerakan Anti AS Merebak
Gelombang anti-Amerika muncul di Turki, sementara presiden Turki menyalahkan Washington atas merosotnya nilai mata uang negara itu, tulis Voice of America.
Di ruas jalan tempat belanja eceran utama di Istanbul, seorang lelaki menyatakan, “Kami akan membuat warga Amerika bertekuk lutut,” sambil membakar uang kertas dolar di hadapan kamera-kamera TV. Luapan kemarahan anti-Amerika terasa di berbagai penjuru Turki.
Di Adana, kota di bagian selatan, seorang lelaki menyatakan akan memboikot produk-produk Amerika sambil membakar uang dolar Amerika.
Di video yang beredar di media sosial, seorang lelaki dengan palunya menghancurkan sejumlah iPhone. Sikap anti-Amerika ini tampak mereda sewaktu suara dering iPhone terdengar dari salah seorang pendukung lelaki tersebut.
Presiden Recep Tayyip Erdogan telah menyerukan boikot terhadap iPhone serta teknologi Amerika lainnya sewaktu ia membangkitkan sentiment anti-Amerika dalam pidato-pidato nasionalisnya yang kian bernada permusuhan.
Presiden Recep Tayyip Erdogan menyerukan boikot terhadap iPhone serta teknologi Amerika lainnya.
Kemarahan Erdogan itu merupakan respons terhadap ambruknya nilai mata uang Turki, lira, yang telah turun hampir 40 persen tahun ini, sebagian besar terjadi pada bulan Agustus ini.
“Serangan terhadap ekonomi kita tidak ada bedanya dengan serangan langsung terhadap bendera kita dan seruan adzan,” kata Erdogan hari Senin. “Tujuannya tidak berbeda. Ini untuk membuat Turki dan rakyat Turki lemah.”
Presiden Donald Trump mengancam menyerang ekonomi Turki dengan memberlakukan sanksi-sanksi dan tarif terhadap Turki setelah penahanan Pastor Amerika Andrew Brunson yang terbukti terlibat mata-mata dan kudeta yang gagal bulan Juli 2018.
Pada 10 Agustus, Presiden Donald Trump melakukan serangannya ke Turki dengan menggandakan tarif AS atas impor aluminium dan baja Turki.
Sebagai pembalasan, Turki meningkatkan tarif pada beberapa produk asal AS, termasuk alkohol, produk tembakau dan mobil.*