Hidayatullah.com—Kejaksaan Ethiopia mengajukan ke pengadilan lima orang tersangka dengan tuduhan terorisme terkait upaya pembunuhan Perdana Menteri Abiy Ahmed dengan serangan granat pada bulan Juni.
Serangan yang dilakukan di ibukota Addis Ababa itu menewaskan dua orang dan melukai lebih dari 100 orang, sementara Abiy selamat.
Para tersangka tidak memberikan komentar terhadap dakwaan tersebut,lapor BBC (28/9/2018).
Sejak menjabat perdana menteri bulan April, Abiy melancarkan serangkaian perubahan di bidang politik, ekonomi dan diplomatik, yang disambut positif oleh banyak kalangan.
Pada 23 Juni bom dilemparkan para pelaku ke arah kerumunan puluhan ribu orang yang menghadiri rapat umum guna mendukung PM Abiy di Lapangan Meskel, Addis Ababa.
PM Abiy langsung dibawa menjauhi lokasi segera setelah bom meledak.
Kala itu, Abiy menyebut serangan itu sebagai “usaya gagal yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan yang tidak ingin melihat Ethiopia bersatu.”
Kelima terdakwa –Getu Girma, Birhanu Jafar, Tilahun Getachew, Bahiru Tollosa dan Desalegn Teafaye– tampak termenung ketika mereka dibariskan di ruang pengadilan, lapor wartawan BBC.
Pihak jaksa mengatakan bahwa para tersangka tidak yakin Abiy dapat merangkul kepentingan kelompok etnis terbesar di Ethiopia, Oromo.
Abiy, yang juga berlatar belakang Oromo, naik ke puncak kepemimpinan Ethiopia setelah suku mayoritas itu menggelar unjuk rasa selama tiga tahun. Dalam aksi protesnya mereka menuntut diakhirinya apa yang mereka sebut sebagai era marjinalisasi politik dan ekonomi.
Menurut jaksa, para terdakwa berkeyakinan bahwa Oromo Liberation Front (OLF), yang pernah dinyatakan terlarang, harus diperbolehkan kembali ke panggung kekuasaan Ethiopia.
Berdasarkan program reformasi PM Abiy, belum lama ini OLF dicoret dari daftar kelompok terlarang. Para pemimpinnya yang mengasingkan diri ke luar negeri kembali ke Ethiopia pada 15 September.
PM Abiy juga berusaha mendamaikan pihak-pihak lain yang bertikai dengan mengundang pulang tokoh-tokoh masayarakat yang mengasingkan diri ke luar negeri, seperti pemimpin patriak gereja ortodoks Uskup Merkorios [Baca: Setelah Diminta PM Abiy Ahmed, Patriark Gereja Ortodoks Pulang ke Ethiopia] dan melakukan perundingan damai dengan negara tetangga Eritrea.*