Hidayatullah.com–Komandan pasukan darat Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) mengatakan pasukan elitnya siap melancarkan operasi gabungan dengan tentara Pakistan untuk membebaskan penjaga perbatasan Iran yang diculik.
Brigadir Jenderal Mohammad Pakpour hari Selasa, 16 Oktober, mengingatkan bahwa unsur-unsur milisi Jaysh al-Adl telah diduga menyusup dari perbatasan Pakistan menuju pos pemeriksaan perbatasan yang bertugas memantau perbatasan Mirjaveh, di dekat provinsi tenggara Sistan-dan-Baluchestan, yang berbagi perbatasan dengan negara tetangganya Pakistan.
“Serangan ini dilakukan oleh agen atau agen rahasia. Sejumlah pasukan lokal, penjaga perbatasan Mirjaveh dan dua anggota Korps Pengawal Revolusi disandera sebelum dipindahkan ke Pakistan,” ujarnya dikutip PressTV.
Kelompok separatis Baluch, Jaish al-Adl (Tentara Keadilan), mengaku bertanggung jawab atas dugaan penculikan 14 tentara penjaga perbatasan Iran.
Baca: 14 Personil Keamanan Iran Diculik di Perbatasan Pakistan
Sebagaimana diketahui, hari Selasa (16/10/2018), media Iran melaporkan 14 anggota pasukan keamanan Iran diculik oleh militan di dekat provinsi tenggara Sistan-dan-Baluchestan.
“Kami telah menjalin banyak kontak, sejak pagi ini, dengan tentara Pakistan untuk memintanya untuk menjamin penangkapan para teroris dan kesehatan para sandera,” tambah Pakpour.
Pasukan elit Garda Revolusi Iran mengatakan hari Selasa mereka juga mengklaim telah membunuh “dalang” di balik serangan terhadap parade militer di Kota Ahwaz, Iran bulan lalu yang menyebabkan 25 orang tewas, hampir setengah dari korban adalah anggota Garda Revolusi.
Para penjaga mengatakan dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di media pemerintah bahwa pasukan mereka telah membunuh seorang pria bernama Abu Zaha dan empat militan lainnya di Provinsi Diyala di Iraq. Satu situs berita yang dijalankan oleh televisi pemerintah Iran mengatakan Abu Zaha adalah anggota DAESH.
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan dalam sebuah pernyataan penculikan pasukan Basijis dan penjaga perbatasan di Iran tenggara ini dilakukan para penyusup. IRGC menunjukkan mereka tinggal di sebuah benteng di wilayah Pakistan.
“Republik Islam Iran siap untuk menjadi bagian dari operasi gabungan dengan tentara Pakistan untuk menghentikan para teroris dan membebaskan para sandera. Kami akan mengikuti kasus ini sampai para sandera kembali dengan selamat ke keluarga mereka, “tambahnya.
Kementerian Luar Negeri Pakistan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa militer Pakistan dan Iran tengah “bekerja untuk memastikan keberadaan pasukan penjaga asal Iran,” menambahkan bahwa “tidak ada upaya akan terhindar” untuk membantu Iran dalam menemukan korban penculikan.
Kantor berita resmi IRNA mengatakan penjaga perbatasan “diculik antara pukul 04.00 dan 5 pagi di daerah Lulakdan di perbatasan Iran – Pakistan.”
Lulakdan terletak 150 kilometer di sebelah tenggara Zahedan, Ibu Kota provinsi tenggara Sistan-Baluchistan.
Konflik bersenjata antara pasukan keamanan Iran dan kelompok gerilyawan di perbatasan Iran meningkat di tengah upaya pemerintah Syiah itu memperkuat cengkeraman terhadap penduduk minoritas.
Dengan populasi lebih dari 80 juta orang, Iran didominasi etnis Persia. Agama negara adalah Syiah. Iran juga rumah bagi jutaan minoritas suku-agama, termasuk Suku Kurdi, Azeri dan Baluchis.
Daerah itu telah menyaksikan bentrokan sesekali antara pasukan Iran dan separatis Baluch, serta pedagang obat bius.
Pada September, gerilyawan menyamar ketika tentara menembaki pawai militer di barat daya yang kaya minyak di Iran, menewaskan 24 orang dan melukai lebih dari 60 orang, kutip Reuters.*