Hidayatullah.com—Seorang pria Kanada yang bekerja sebagai penata kebun dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena pembunuhan dan mutilasi seksual terhadap 8 pria dari komunitas gay di Toronto dan menyembunyikan jasad mereka di bawah tanaman yang ditanamnya.
Bruce McArthur, yang mengakui perbuatannya bulan lalu, akan berusia 90-an tahun sebelum dinyatakan layak untuk mengajukan pembebasan bersyarat dari 8 hukuman penjara 25 tahun konkuren untuk pembunuhan yang dilakukannya.
Hakim pengadilan Superior Ontario John McMahon mengatakan bahwa terpidana sepertinya tidak akan pernah dibebaskan, lapor AFP Jumat (8/2/2019).
Pembunuhan berantai yang terjadi di Toronto itu menguncang komunitas homoseksual Kanada, bahkan Wali Kota John Tory menyebut pelakunya sebagai “monster yang mencari mangsa di kota itu.”
Pembunuh berusia 67 tahun tersebut tampak duduk tenang ketika hakim membacakan keputusan, sementara para detektif yang menyelidiki kasus-kasus pembunuhan yang dilakukannya duduk di kursi pengunjung pengadilan.
Pria-pria gay korban McArthur adalah seorang bekas kekasihnya, dua orang migran asal Afghanistan, dua pengungsi asal Sri Lanka, seorang pria asal Iran, seorang pria berkewarganegaraan Turki, dan seorang pekerja seks tunawisma. Semua orang itu dilaporkan menghilang antara tahun 2010 dan 2017.
Ketika polisi menggeledah apartemennya pada Januari 2018, mereka menemukan seorang pria muda terikat di tempat tidur tetapi tidak terluka, yang kemungkinan akan menjadi korbannya kesembilan, kata hakim.
Dalam persidangan dipaparkan bahwa McArthur menjerat leher korban-korbannya dan pembunuhannya bersifat seksual. Potongan-potongan tubuh dari 7 korbannya ditemukan dikubur di dalam sebuah pot besar tanaman yang ditempatkan di salah satu rumah pelanggannya di kota Toronto. Tubuh korbannya yang kedelapan kemudian ditemukan di dalam jurang yang berada di belakang rumah tersebut.
Karen Fraser, pemilik rumah, mengaku pernah bertemu dengan dua orang korban McArthur dan wanita itu merasa “dihantui” oleh kasus pembunuhan tersebut.
McArthur mulai dicurigai ketika pacar homoseksualnya Andrew Kinsman dilaporkan menghilang, tetapi polisi awalnya menampik kemungkinan ada pembunuh berantai berkeliaran di kawasan Perkampungan Gay Toronto.
Saat menyelidiki hilangnya Kinsman, polisi mendapatkan rekaman video dari kamera pengawas yang menunjukkan pria itu masuk ke dalam mobil van McArthur, di mana polisi pada akhirnya menemukan senjata yang dipakai untuk membunuh.
Petugas juga menemukan kalender milik Kinsman yang bertuliskan nama “Bruce” pada suatu hari di bulan Juni 2017 yang bertepatan dengan tanggal kehilangannya. Kalender itu menjadi bukti utama petugas kepolisian untuk mencurigai McArthur.
Pada bulan Januari 2018, polisi bergerak menangkap McArthur setelah melihat seorang pria muda masuk ke rumahnya. Di dalam komputer yang disita petugas dari rumah McArthur, terdapat folder bernama “John” yang didalamnya belum terisi file alias kosong. Rupanya, menurut jaksa penuntut, McArthur selalu mengambil foto para pria korbannya sebelum dan sesudah pembunuhan dan menyimpannya di dalam folder sesuai nama mereka.
McArthur selalu memotret korbannya yang sudah tidak bernyawa dalam pose dan posisi tertentu, seperti membaringkan mereka dengan jaket berbulu dan rokok di mulut dan menyelotip matanya agar tetap terbuka. Dia juga menyimpan benda-benda kenangan yang diambil dari korban-korbannya, seperti perhiasan dan buku catatan.
McArthur tidak mengakui penyimpangan seksualnya sampai berusia 40-an tahun. Dia tiba-tiba meninggalkan begitu saja istri dan dua anaknya dan pindah ke Toronto pada tahun 1997, di mana dirinya kemudian dikenal luas di kalangan gay di kota itu.
Hasil pemeriksaan oleh ahli kejiwaan tahun 2001 mengungkap bahwa McArthur pernah memukuli seorang gigolo dengan pipa besi tetapi tidak dipenjara akibat perbuatannya itu setelah dinyatakan tidak berbahaya.*