Hidayatullah.com–Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen hari Selasa (13/8/2019) secara resmi meminta maaf atas kekerasan yang dialami anak-anak di panti asuhan pasca Perang Dunia II.
Dalam acara yang digelar di kediamannya di Marieborg, dia meminta maaf atas nama negara Denmark kepada para korban atas apa yang disebutnya sebagai salah satu episode terkelam dalam sejarah negara itu.
“Saya ingin menatap langsung mata Anda satu persatu dan mengatakan: maaf,” kata Frederiksen. “Maaf atas ketidakadilan yang dialami Anda dan orang-orang yang Anda kasihi.”
“Kepada Anda yang ada di sini, kepada Anda yang sudah wafat, serta mereka yang akan menyusul. Atas nama Denmark saya menghaturkan permohonan maaf.”
Anak-anak yang tinggal di berbagai panti asuhan di Denmark antara tahun 1946 dan 1976 mengalami kekerasan bertahun-tahun, seperti dipukuli dan ditelantarkan. Seorang dokter yang ditugaskan di sebuah panti asuhan putra bahkan dituduh melakukan eksperimen medis terhadap mereka.
Seruan agar pemerintah meminta maaf atas kegagalannya melindungi anak-anak panti mencuat setelah sebuah film dokumenter tahun 2005 disiarkan. Dokumenter itu memaparkan kesaksian para penyintas dan staf panti.
Salah satu panti yang dikenal paling kejam terhadap anak-anak adalah panti asuhan putra Godhavn di Zealand.
Poul-Erik Rasmussen, pimpinan Asosiasi Nasional Panti Asuhan Putra Godhavn mengatakan permintaan maaf itu sangat penting guna menutup kasus tersebut.
“Ketika kami dibesarkan di panti asuhan, kami diberitahu bahwa kami tidak berarti sama sekali,” kata Rasmussen kepada kantor berita Jerman DPA seperti dikutip DW.
Rasmussen tinggal di panti tersebut di era 1960-an dan mengalami rasanya dipukuli dan disiksa secara batin oleh pengurus panti.
Menyusul pidato perdana menteri itu, dia berkata, “Selama bertahun-tahun kami merasa bersalah. Kami sekarang tidak perlu lagi merasakan hal itu.”
Denmark menghapus hukuman fisik pada tahun 1967, artinya orang dilarang memberikan hukuman fisik seperti pemukulan atau cambukan.*