Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Intelijen Inggris Hambat Pengungkapan Kasus Kematian Sekjen PBB 1961

Ama Farah
Terakhir diupdate: 14 Oktober 2019 21:59 9:59 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 14 Oktober 2019 21:55
Bagikan
Bagikan

 

Hidayatullah.com–Dinas intelijen luar negeri Inggris MI6 mendapat tekanan untuk membuka file tentang kematian misterius seorang sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tewas dalam kecelakaan pesawat terbang hampir 60 tahun silam.

Dag Hammarskjöld tewas bersama 13 orang lain pada September 1961, ketika pesawat yang ditumpanginya jatuh di Ndola, yang kala itu termasuk wilayah Rhodesia Utara. Ada spekulasi bahwa pesawat tersebut sengaja dijatuhkan. Sebuah film yang dirilis tahun ini, Cold Case Hammarakjöld, salah satu pemenang dalam Festival Film Sundace 2019, meramaikan spekulasi itu.

Sekarang, sebuah laporan dari Mohamed Chande Othman, mantan ketua Mahkamah Agung Tanzania yang ditunjuk PBB untuk mengkaji berbagai informasi seputar kasus itu, menuding Inggris ogah-ogahan membantu, lapor The Guardian Sabtu (11/10/2019).

Inggris menebar agen-agen intelijen di seluruh penjuru Afrika pada tahun 1960-an, dan diminta untuk membagikan informasi yang dimilikinya tentang peristiwa jatuhnya pesawat tersebut.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Inggris dan Amerika Serikat hampir dipastikan memiiki informasi penting yang tidak diungkapkan,” kata Othman, seraya menambahkan bahwa Inggris baru merespon permintaan informasi tersebut 15 bulan kemudian.

“Meskipun Inggris sudah dipastikan sangat mungkin memiliki informasi relevan, dan meskipun ada saya mengindikasikan di area tertentu mana informasi itu mungkin dapat ditemukan, tidak ada dokumen baru atau informasi lain yang diberikan, dan tidak ada respon atas pertanyaan-pertanyaan detil yang saya sampaikan,” papar Mohamed Chande Othman.

Tahun lalu, PBB meminta 14 negara –termasuk Inggris, Afrika Selatan, Amerika Serikat dan Rusia– masing-masing menunjuk seorang pejabat independen untuk melakukan kajian terhadap arsip-arsip intelijen, keamanan dan pertahanan mereka.

Inggris melakukan kajian itu dalam waktu satu bulan. Dalam laporannya Othman mencatat, “Menurut saya tidak fair mengharapkan waktu satu bulan cukup untuk menuntaskan kajian menyeluruh atas permasalahan luas dan mendalam yang ditanyakan.”

Laporan Othman mendesak Inggris dan negara-negara lain yang memiliki informasi agar terlibat investigasi PBB itu “lebih jauh dan dalam”.

Laporan itu mengatakan sudah menampakkan “contoh-contoh konkret” yang membantah klaim Inggris telah melakukan pengkajian menyeluruh –termasuk sangkalan Inggris bahwa kerajaan itu memliki informasi tentang orang bernama Neil Ritchie, yang bekerja sebagai agen MI6 di Provinsi Katanga di Kongo.

Lord Lea of Crondall, ketua Hammarskjöld Inquiry Trust, menuding pemerintah Inggris menghambat upaya pengungkapan kasus tersebut. “MI6 kehabisan ruang persembunyian,” kata Lea. “Setelah adanya laporan ini mereka akan ditegur bahkan lebih keras oleh PBB,” imbuhnya. “Sudah tiba waktunya bagi PBB untuk menanyakan langsung kepada Inggris: Apakah mereka menyetujui pertemuan dengan MI6, ya atau tidak?”

Pada saat kematiannya, Hammarskjöld berusaha mencegah Katanga melepaskan diri dari Kongo, yang akan miliki konsekuensi geopolitik signifikan. Kongo kala itu menerima bantuan dari Uni Soviet dan memiliki cadangan uranium terbesar dunia. Membayangi negara itu adalah banyak dinas intelijen negara asing seperti KGB, CIA dan MI6 yang mendorong kepentingan masing-masing negara mereka.

Serangkaian penyelidikan menggali beragam hipotesis tentang peristiwa jatuhnya pesawat tersebut, antara lain serangan udara atau darat, sabotase, pembajakan dan kesalahan manusia. Satu-satunya penyintas dalam kejadian itu, Harold Julien, mengatakan terjadi ledakan sebelum pesawat jatuh dari langit. Dia wafat akibat luka yang dideritanya enam hari kemudian.

Cold Case Hammarskjöld mengklaim bahwa seorang pilot Belgia bernama Jan van Risseghem mengaku menembak jatuh pesawat PBB itu. Koran The Observer mengungkap bahwa van Risseghem memiliki keterkaitan luas dengan Inggris, seperti ibunya yang orang Inggris, istrinya juga orang Inggris, dia dilatih oleh Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) dan mendapatkan penghargaan dari Inggris atas tugas yang dijalaninya semasa Perang Dunia Kedua.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Presiden Xi Ancam Gerus Mereka yang Coba Lepas dari China
Tulisan selanjutnya Crosshijaber adalah Kejahatan dan Masuk “Tindakan Makar”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?