Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Penyidik PBB: Detensi Imigrasi Libya Dirudal Pesawat Asing

Ama Farah
Terakhir diupdate: 6 November 2019 23:39 11:39 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 7 November 2019 07:34
Bagikan
Para migran diangkut truk di Libya.
Bagikan

Hidayatullah.com—Serangan rudal mematikan atas sebuah pusat detensi migran di Libya dilakukan oleh sebuah pesawat tempur asing. Demikian menurut laporan rahasia hasil investigasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dilihat oleh BBC edisi bahasa Arab.

Tidak ada nama negara yang disebutkan, tetapi sebuah sumber yang mengetahui tentang investigasi itu menyebut Uni Emirat Arab, lapor BBC Rabu (6/11/2019).

Serangan yang terjadi pada bulan Juli itu menewaskan 53 orang migran dan melukai 130 lainnya, dan disebut berpotensi dianggap sebagai kejahatan perang oleh UN High Commissioner for Human Rights Michelle Bachelet.

Kebanyakan yang terbunuh di pusat detensi imigrasi Tajoura itu diyakini berasal dari negara Afrika di kawasan sub-Sahara yang berusaha menyeberang ke Eropa melalui Libya.

Misi Khusus PBB di Libya mengatakan kepada BBC bahwa pihaknya membagikan koordinat lokasi dentensi imigrasi itu –yang terletak di sebelah timur ibu kota Tripoli– kepada kedua belah pihak yang berseteru di Libya agar tidak diserang. Kedua kubu itu adalah Libyan National Army (LNA) yang dipimpin Jenderal Khalifa Akhtar dan Government of National Accord (GNA), pemerintahan Libya dukungan negara-negara Barat.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

GNA pada bulan Juli mengatakan bahwa serangan misil itu dilakukan oleh sebuah pesawat tempur milik Uni Emirat Arab. LNA, yang awalnya mengatakan membom sebuah target sah, kemudian membantah terlibat dalam serangan rudal itu.

Sebuah panel yang bekerja untuk Dewan Keamanan PBB selama berbulan-bulan berupaya mencari tahu siapa yang merudal pusat detensi itu.

BBC Arab melihat dokumen laporan hasil penyelidikan yang akan dipresentasikan hari Rabu (6/11/2019) di Dewan Keamanan PBB tersebut.

Laporan itu mengutip bukti-bukti dari sebuah sumber rahasia yang mengatakan “beberapa pesawat tempur Mirage 2000-9 yang tidak diketahui pasti jumlahnya dioperasikan dari dua pangkalan udara di wilayah Libya pada saat serangan itu terjadi.”

Uni Emirat Arab dan Mesir –keduanya pendukung LNA– diketahui memiliki banyak jet tempur Mirage.

Seorang jubir Angkatan Bersenjata Mesir mengatakan tidak ingin berkomentar sebelum laporan itu dipublikasikan.

Laporan PBB itu mengatakan pesawat-pesawat tempur Mirage itu menggunakan dua pangkalan udara di Libya, yaitu Jufra dan Al-Khadim.

Pada tahun 2017, PBB mengatakan bahwa UEA membangun pangkalan udara di Al-Khadim dan memberikan dukungan serangan udara untuk pasukan LNA pimpinan Jenderal Haftar.

Laporan rahasia itu menyimpulkan bahwa “kemungkinan besar” serangan udara tersebut dilakukan dengan peluru-peluru kendali berpresisi tinggi oleh sebuah jet tempur yang dioperasikan sebuah negara anggota PBB dalam rangka memberikan dukungan untuk pasukan Haftar.

Laporan itu tidak menyebut nama negara tertentu, dengan alasan bukti-buktinya masih terus dikumpulkan.

UEA dan LNA tidak memberikan komentar ketika dihubungi berkali-kali oleh BBC.

“Apabila ada bukti konkret intervensi militer langsung oleh negara-negara asing, maka hal tersebut sama sekali tidak dapat diterima, dan perlu diselidiki pada tingkat yang paling tinggi,” kata mantan duta besar Inggris untuk Libya Peter Millet.

Sejak 2011 berlaku embargo senjata atas Libya. Pada bulan Agustus 2019, Uni Emirat Arab menandatangani sebuah komitmen untuk tetap mematuhi embargo itu bersama Inggris, Amerika Serikat, Prancis dan Italia.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HaftarJet TempurLibyamigranUni Emirat Arab
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kelompok Lintas Parlemen Skotlandia Sepakati ‘Pedoman Penulisan’ lebih Adil terkait Pemberitaan Islam
Tulisan selanjutnya Muhammadiyah: Kurangi Pembicaraan Radikalisme, Sudah Kelebihan Dosis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Berita
13 Juli 2026 16:30
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Mantan Pemimpin Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Wafat
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Dua Topan Mendera China dalam Sepekan Hampir 2 Juta Orang Dievakuasi

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?