Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Mauritius: Inggris Melakukan Kejahatan Kemanusiaan di Chagos Islands

Ama Farah
Terakhir diupdate: 30 Desember 2019 05:15 5:15 am
Ama Farah
Dipublikasikan 30 Desember 2019 05:15
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Inggris dituding melakukan kejahatan kemanusiaan karena menolak memperbolehkan orang kembali ke bekas rumah mereka di Chagos Islands, meskipun telah ada keputusan dari pengadilan tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa awal tahun ini.

Menggambarkan perilaku Inggris sebagai keras kepala dan memalukan, Perdana Menteri Mauritius Pravind Jugnauth mengatakan kepada BBC bahwa dia sedang menggali kemungkinan mengajukan gugatan kejahatan kemanusiaan terhadap individu pejabat-pejabat Inggris ke International Court of Justice (ICJ).

“Itu merupakan pelanggaran prinsip dasar HAM. Saya tidak paham mengapa Inggris, pemerintahan ini, begitu keras kepala,” kata Jugnauth seperti dikutip BBC Ahad (29/12/2019).

Orang-orang tua Chagos, yang tinggal di Mauritius, menyuarakan kecaman mereka dan menuding Inggris dengan senggaja mengulur-ulur penyelesaian masalah itu dengan harapan komunitas orang Chagos pada akhirnya mati.

Awal tahun ini, Mauritius menang telak dalam gugatannya terhadap Inggris ketika ICJ di Den Haag memutuskan Chagos Islands harus diserahkan ke Mauritius guna menuntaskan “dekolonisasi”.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Majelis Umum PBB kemudian memutuskan, lewat pemungutan suara, untuk memberikan waktu enam bulan kepada Inggris untuk memulai proses penyerahan kepulauan itu. Akan tetapi, Inggris sampai saat ini menolak untuk mematuhi keputusan tersebut.

Sudah setengah abad sejak Inggris mengambil alih kontrol atas Chagos Islands dari bekas koloninya kala itu, Mauritius, dan mengusir seluruh penduduknya yang berjumlah lebih dari 1.000 orang guna membuka jalan bagi pendirian pangkalan militer Amerika Serikat. Kesepakatan Inggris dan AS tentang pendirian pangkalan militer itu dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Mauritius, yang waktu itu berusaha mengukuhkan kemerdekaannya dari Inggris.

Inggris bersikukuh menyatakan bahwa keputusan ICJ salah. Namun, Inggris telah meminta maaf atas tindakannya di masa lampau memindahkan orang-orang Chagos ke luar pulau kelahiran mereka, dan berjanji akan mengembalikan kepulauan tersebut ke Mauritius apabila sudah tidak lagi diperlukan untuk tujuan keamanan.

Dalam sebuah penyataan Foreign & Commonwealth Office (FCO) mengatakan kepada BBC, “Fasilitas-fasilitas pertahanan yang ada di British Indian Ocean Territory membantu melindungi orang-orang di Inggris dan seluruh dunia dari ancaman teroris dan pembajakan. Kami memegang komitmen untuk menyerahkan kedaulatan teritori itu kepada Mauritius ketika wilayah tersebut sudah tidak lagi diperlukan untuk maksud-maksud pertahanan.”

FCO mengatkaan Inggris menjanjikan lebih dari 40 juta pound dana untuk memperbaiki kualitas hidup orang-orang Chagos yang tinggal di Mauritius, Seychelles dan Inggris.

Inggris juga mengadakan tur bagi orang Chagos untuk mengunjungi kembali kepulauan kecil itu “dalam paket wisata sejarah”.

Namun, orang-orang Chagos melihat dana dan tur yang diadakan Inggris adalah upaya untuk membungkam mulut mereka.

“Kami seperti burung yang terbang di atas samudera, dan kami tidak memiliki tempat untuk mendarat. Kami harus terus terbang sampai mati,” kata Samynaden Rosemond, orang Chagos berusia 81 tahun.

Di sebuah kompleks pemakaman di ibukota Mauritius, Port Louis, kuburan orang-orang Chagos ditandai dengan batu nisan yang bertuliskan kesedihan mereka karena tidak dapat kembali ke pulau tempat kelahirannya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerika SerikatChagos IslandsinggrisMauritius
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pesan Pemuda Hong Kong: Jangan Percaya Orang Komunis, Jangan Terperangkap Uang China
Tulisan selanjutnya Pengadilan Kasasi Italia Dekriminalisasi Penanaman Ganja untuk Keperluan Pribadi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?